Rekomendasi Body Care Untuk Kulit Badan Kering Sensitif (Eksim)

22 comments
rekomendasi body care kulit kering sensitif eksim

Buat rakyat @racunwarnawarni cabang instagram, pasti sudah sering banget denger saya sambat soal kondisi kulit saya yang kering dan sensitif. Kulit saya, terutama kulit badan, memang sangat kering dan sensitif karena saya punya eksim (eczema), atau bahasa medisnya Dermatitis Atopik.

Nah, karena kondisi ini, saya biasanya picky banget kalau pilih produk perawatan kulit badan atau body care. Dan sensitifitas kulit yang disebabkan oleh eksim ini memang akan semakin parah seiring berjalannya usia. Jadi makin tua, seleksi produk saya semakin ribet. Saya jadi lebiihhh memperhatikan ingredient.

Tapi sebelum menuju rekomendasi produk, saya ingin menjelaskan sedikit apa itu eksim, buat yang belum tahu. Biar postingannya kelihatan keren gitu lho, bukan cuma pamer produk.


Apa itu eksim atau Dermatitis Atopik?
Dermatitis Atopik atau eksim adalah kondisi turunan yang menyebapkan kulit jadi sangat sensitif. Kulit eksim pada umumnya tidak punya kemampuan untuk melembapkan dirinya sendiri, jadi ya penderita eksim biasanya punya kulit yang sangat kering. Kalau pas kumat atau terpicu oleh sesuatu, biasanya yang terjadi adalah kulit merah meradang, gatal-gatal, lecet atau luka-luka, bersisik, pecah-pecah, dan berkerak. Dan semakin tua, biasanya gejala-gejala ini akan lebih sering muncul dan terpicu.

Biasanya, gejala-gejala eksim ini muncul di lipatan-lipatan dan area kulit yang sering tergesek. Misalnya: leher, sela jari, bagian dalam siku, area di balik lutut, bawah tete, selangkangan, daerah dada dan punggung yang tergesek tali beha, area pinggang yang terkena karet shempak, lekukan wajah, dan lain sebagainya. Tapi tiap orang  beda-beda ya. Eksim yang saya alami, (( UNTUNGNYA )) hanya di sekujur badan, muka saya sampai hari ini tidak pernah diserang. Mungkin eksimnya juga shayank dan tidak mau menodai kecantikan saya.

foto kulit dengan eksim
Eksim di leher. Biasanya pas kumat di leher saya jarang selfie, tapi entah kenapa saat itu lagi pengen.

Kalau kamu mengalami gejala-gejala yang saya tuliskan di atas, bisa jadi kamu eksim, tapi jangan geer dulu. Untuk tahu kamu menderita eksim (dermatitis atopik) atau bukan, kamu harus ke dokter kulit. Jangan self diagnose. Karena masih ada kemungkinan penyakit kulit lain selain eksim, misalnya psoriasis, hanya sekedar sentitit dan tidak cocot produk saja, atau disantet kompetitor. Dan beda penyakit penanganannya juga beda.


Penyebab Eksim
Kalau penyebab awalnya ya turunan itu tadi. Coba saja cari buapakmu atau mbuahmu atau siapamu, pasti ada yang mengalami gejala yang sama. Tapi kalau "penyebab gejala" atau pemicunya bisa berbeda-beda di masing-masing orang. Dan pada tulisan ini, saya hanya akan menyebutkan pemicu saya saja.

Ini dia pemicu yang biasanya bikin kulit saya kumat:
  1. Stres. 
  2. Pergantian cuaca
  3. Keringat
  4. Sulfate
  5. Alkohol
  6. Gesekan
  7. Mandi air panas
  8. Segala hal yang bikin kulit kering

Cara Mengobati Eksim
Tidak ada obat eksim. Jadi bukan cuma kecantikan saya yang no cure, eksim juga. Sekali orang terkena eksim, dia harus deal dengan itu seumur hidupnya. Yang harus dilakukan, bukan mengobati, tapi menghindari trigger atau pemicu alerginya sebisa mungkin agar tidak kumat.

Yang saya lakukan:
  • berusaha hidup bahagia agar tidak stres. Jadi tolong puji-puji saya terus di kolom komen ya, jangan nanya yang sudah ditulis biar saya nggak stres.
  • memakai produk-produk perawatan kulit badan yang gentle bagi saya (karena gentle bagi saya belum tentu gentle bagi orang lain. Ingat, trigger eksim setiap orang bisa saja berbeda.) 
  • memakai handuk yang lembut
  • sebisa mungkin tidak mandi pakai air hangat. 
  • pakai sabun yang sulfate-free. Cara tahu kalau produk tersebut tidak mengandung sulfate bagaimana? Ya dibaca ingredient-nya dong, Bambang! Saya biasanya menghindari kandungan Sodium Lauryl Sulfate (SLS), Ammonium Lauryl Sulfate (ALS), dan Sodium Laureth Sulfate (SLES).
  • untuk fragrance, saya juga sudah mulai menghindari. Karena beberapa kali kulit saya perih dan berakhir gatal-gatal ketika memakai produk-produk dengan parfum yang kuat. Padahal tadinya nggak papa. Tapi ya memang eksim itu begini sih, bisa jadi trigger-nya berubah atau bertambah. Kitanya yang harus peka. Nggak ada akhlak u emang, Sim!
  • Lalu yang paling penting juga: selalu jaga kulitmu dalam keadaan bersih dan LEMBAP! Jangan pernah skip atau males pakai body moisturizer.

Ya sesekali saya masih nyobain sabun kekinian yang berbusa-busa dan wangi dan pakai SLES, atau mandi air hangat. Tapi paling cuma seminggu sekali. Tidak menjadi kebiasaan yang dilakukan setiap hari.

Tapi kalau faktor pemicu yang nggak bisa saya kendalikan, seperti cuaca, ya saya sih pasrah saja karena saya bukan avatar the last airbender sang pengendali cuaca dengan tatto bison terbang.


Apakah Penderita Eksim Perlu Ke Dokter Kulit?
Perlu nggak perlu. Kalau menurut saya, sebenarnya nggak perlu kok ketergantungan harus ke dokter kulit setiap bulan dan menebus resep racikan yang lebih mahal dari harga dirimu itu. Asalkan kita bisa tertib selalu melembapkan kulit, dan sebisa mungkin menghindari pemicu, seharusnya sih aman.

twitwar trending twitter bekal makan suami
cuplikan twitwar bekal suami se-RT. Diambil dari instagram story @racunwarnawarni

Tapi pada kondisi tertentu, misal pas kumat kebangetan dan sampai mengganggu kehidupan dan mengganggu aktivitas twitwar soal bekal makan siang suami, ya mau nggak mau harus ke dokter. Nggak mau kan, ketinggalan twitwar-bekal-makan-suami cuma gara-gara (( GATHEL )) yang (( LITERALLY GATHEL ))?

Saya pun kalau kondisi pas tidak bisa di atasi, ya ke dokter juga. Tapi kalau pas nggak kambuh, ya saya hanya perlu melanjutkan gaya hidup sehat, menghindari pemicu, dan pakai produk yang tepat saja.


Rekomendasi Body Care Untuk Kulit Eksim
Tadinya, saya hanya pakai produk-produk yang direkomendasikan dan diresepkan oleh dokter kulit saya. Di antaranya adalah Noroid Lotion, almond oil/ coconut oil (merek apa aja), dan Aveeno Baby Soothing Relief Creamy Wash. Tiga produk itu manteb tenan dan mungkin sobat-sobat eksim yang sedang kumat bisa pakai. Saya rekomend abis bagus banget mau meninggal pokoknya.

Cuma ya kalau dipakai terus-menerus, saya merasa kehilangan jati diri saya sebagai princess. Soalnya, saya suka banget sama aroma wangi. Saya sedih, gundah, kecewa, kesal pakai body care nggada bau terus-terusan. Hal itu bikin saya stres dan males mandi serta males pakai lotion yang semuanya adalah pemicu eksim. Cry T.T.

Jadi, akhirnya saya berusaha mencari produk-produk yang wangi, namun nggak bikin alergi saya kambuh. Salah satu cara saya menyiasatinya adalah cari produk yang gentle tapi wangi. Ini bisa saja masih mengandung fragrance, tapi jumlahnya sedikit. Atau wanginya berasal dari ingredient yang dipakai (bukan sintetic fragrance) seperti kopi atau essential oil. Tapi tentu setiap orang nggak sama ya. Bisa jadi, kulitmu juga sensitif sama essential oil. Harus dites sendiri.

Ini dia produk-produk yang wanginya enak, yang saya pakai akhir-akhir ini:

Sabun Mandi


review dr. bronner's pure castile soap

Untuk sabun mandi, saya pakai Dr. Bronner's 18-in-1 Lavender Pure-Castile Soap. Castile soap adalah sabun minyak nabati yang serbaguna, yang tidak menggunakan lemak hewani dan bahan-bahan sintetik. Castile soap ini pada dasarnya adalah sabun yang natural, non-toxic, dan ramah lingkungan.

Nah, Dr. Bronner's ini ibarat (( BIANG SABUN )) begitu lho! Jadi produk ini bisa dipakai untuk apa aja dan pakainya harus di-dilute atau diencerkan dengan air. Dosis pengencerannya tergantung mau dipakai buat apa. Sabun ini selain dipakai buat mandi, juga bisa dipakai untuk keramas, mencuci muka, mencuci baju, mencuci piring, mencuci kocheng, mencuci anjing, dll. Tapi saya sendiri cuma pakai untuk mandi dan cuci tangan. Saya dilute dengan takaran sabun : air = 1 : 3. Lalu saya tempatkan di foam botle atau botol pembuat busa. Jadi kalau di pumping, yang keluar udah langsung busa.

Review Dr. Bronner's 18-in-1 Lavender Pure-Castile Soap:
  • Nggak ada busanya, kecuali mau pakai foam botle kayak saya. Kalau pakai shower puff juga bakalan berbusa tapi nggak sebanyak busa sabun biasa. Saya sih nggak masalah tapi kalian rakyat jelata yang biasa pakai sabun supermarket pasti iyik.
  • Wangi lavender-nya enak, lumayan kuat tapi nggak menyengat dan bener-bener kayak lavender essential oil.
  • Mudah dibilas dan nggak meninggalkan rasa licin!
  • Nggak bikin kulit kering. 
  • Eksim di sela-sela jari saya udah nggak pernah kambuh walau saya sering cuci tangan. Beberapa teman saya yang kulitnya normal nggak perlu pakai body lotion setelah beralih ke sabun ini.
  • Harga Dr. Bronner's 18-in-1 Lavender Pure-Castile Soap Rp.149.000/ 237 ml. Agak mahal, tapi awet banget dah karena pakainya dikit-dikit.

Body Lotion

review sensatia botanicals, eucalie, dan nature republic

Kayak yang udah saya bilang, saya tadinya selalu pakai unscented body lotion. Tapi lama-lama males yha! Jadi sekarang saya berusaha mencari body lotion yang wangi namun eczema friendly. Ini dia yang lagi saya pakai:
  1. Sensatia Botanicals Calming Body Lotion
    Saya selalu suka sama produk-produk Sensatia Botanicals karena memang ingredient-nya aman buat saya. Kalau ada teman yang hamil atau punya bayi, saya juga suka kasih kado produk Sensatia Botanicals, karena memang cenderung aman untuk ibu hamil dan menyusui.
    Review Sensatia Botanicals Calming Body Lotion: Aromanya memang sesuai namanya, calming, menenangkan. Sedikit herbal, di hidung saya terasa seperti perpaduan antara lavender, jasmine, dan sedikiiiiit aroma citrus. Memang nggak semerbak seperti body lotion supermarket, tapi cukup menyenangkan.
    Teksturnya juga enak. Cukup mudah dibaurkan, melembapkan, dan nge-blend dengan baik ke kulit tanpa rasa licin. Harga Sensatia Botanicals Calming Body Lotion Rp.180.000/ 300 ml dan Rp.240.000/ 500 ml.

  2. Eucalie Organic Anti-Aging Hand and Body Cream
    Ini penemuan terbaru saya! Tapi saya langsung jatuh cinta. Review Eucalie Organic Anti-Aging Hand and Body Cream: Teksturnya enak banget. Ala-ala tekstur hand cream mahal, yang creamy tapi nggak lengket berminyak, tapi melembapkan. Selama ini saya selalu berpikir, bakalan enak banget kalau ada body lotion yang teksturnya kayak hand cream. Mau pakai hand cream ke seluruh badan kan sayang ya. EH INI KESAMPAIAN!
    Kalau temen-temen biasa cium essential oil, pasti langsung familier sama aromanya. Aromanya herbal, green, dan menenangkan. Harganya Eucalie Organic Anti-Aging Hand and Body Cream Rp.139.000/ 90 ml, menurut saya terjangkau untuk teksturnya yang enak.

  3. Nature Republic Green Derma Mild Cream
    Saya sebenernya nggak suka body butter dengan kemasannya yang dicolek-colek, karena menurut saya nggak higienis. Saya kan soq bersih anaknya. Tapi cream ini bener-bener ampuh meredakan kegathelan saya kalau pas kumat, jadi ya udah saya shayank.
    Ini memang aromanya lembut banget, tapi seger. Nggak bau apek kayak unscented body lotion. Pokoknya nyenengin kalau pas dipakai. Harga Nature Republic Green Derma Mild Cream Rp.450.000/ 190 ml (free cica serum), agak pricey memang. Tapi yaudah lah ini ampuh dan guede banget nggak abis-abis!

Body Oil


Kalau mandi malam, saya selalu pakai body oil sesudahnya. Pakainya pas kondisi badan masih basah sebelum handukan. Nggak lengket dan cepat meresap kok. Bahkan lebih enak nge-blend-nya daripada pakai body lotion. Kalau lagi males pakai body lotion, saya cuma pakai body oil saja. Kalau lagi lebay saya pakai body oil terus ditumpuk lagi pakai body lotion.

Nah, dulu sih saya bisa pakai sembarang oil. Tapi kalau sekarang, saya harus pilih-pilih. Saya udah nggak bisa pakai Mustika Ratu Sandalwood Oil kesayangan saya, soalnya ingredient utamanya adalah mineral oil. Itu nggak cukup melembapkan kulit saya sekarang. Huhu sad, padahal baunya enak banget.


Saya sekarang lagi pakai Utama Spice Lavender Body Oil. Ingredient-nya soya oil, coconut oil, dan lavender oil. Oil-nya cukup ringan dan nggak greasy berlebihan, trus aromanya tuh lavender banget! Duh cinta! Saya suka pakai ini sore/ malem biar boboknya lebih nyenyak. Harga Utama Spice Lavender Body Oil Rp.95.000/ 100 ml.

Oh iya, ini kemasannya kaca dan bagian atasnya lubangnya kekecilan jadi susah di tuang. Jadi kalau saya sih, saya cabut dan buang aja seal atau pembatas tutup botolnya. Trus kalau lagi pengen aroma lavender yang lebih-lebih lagi, biasanya saya tetesin lavender essential oil lagi, baru saya pakai.

Body Scrub

review evt evete naturals coffee body scrub

Lho, katanya sensitif gesekan? Ehm...saya jaraaaang banget sih pakai scrub. Tapi kadang-kadang ya pengen juga. Cuma saya pastikan kalau:
  1. Pakainya nggak perlu digosok keras-keras. Ala-ala aja.
  2. Jangan terlalu sering. Dua minggu sekali masih oke lah.
  3. Pakai dalam kondisi kulit basah oleh air dan licin oleh minyak
  4. Sebaiknya sih pilih natural scrub, jangan scrub yang pakai microbeads (walau kadang sesekali saya pengen juga pakai cream scrub yang wangi. Nggak papa. Asal jangan sering-sering.)

Saya lagi pakai Evete Naturals Coffee Body Scrub. Scrub ini bentuknya bubuk, terbuat dari biji robusta dan brown sugar. Aromanya kopiiii banget, enak dan nyaman banget luluran sambil hirup aromanya. Nah, untuk pakai, saya biasanya campur dengan Mustika Ratu Minyak Cendana. Jadi saya tetep pakai si minyak cendana kesayangan saya dulu itu. Cuma nggak saya pakai sebagai body oil, sekarang saya pakai buat campuran scrub aja. Harga Evete Naturals Coffee Body Scrub Rp.54.000/ 80 gram.


Sudah cukup sekian ya ocehan saya soal eksim. Sebenarnya ini cuma mau pamer aja body care saya yang mahal-mahal itu. Tapi kalau ternyata postingan ini bermanfaat, ya syukurlah. Riya saya berfaedah.

Apa Sih Poin-Poin Penting Saat Mereview Makeup?

19 comments

Kalian sudah mencoba Face Base BLP dan Face Concealer BLP yang terbaru belum? Kedua produk itu bener-bener produk lokal dengan kualitas yang sangat-sangat bagus. Tapi saya nggak akan me-review produk tersebut kali ini. Saya lagi nggak mood ngomong (( serius )). Hylyh, kipin kimi miid ngiming siriis siihhh? Kali ini saya cuma kepengen menghidupkan label "shitty think". Sebuah rubik dimana saya boleh ngoceh soal opini saya mengenai apa saja dan teman-teman boleh menanggapi di kolom komen.

Cerita akan saya mulai dari ketika saya mendapatkan produk-produk makeup BLP dulu ya. Saya memang harus mengakui, kalau BLP memang selalu mengeluarkan produk yang kualitasnya bikin (( ngowoh )). Saya appreciate deh teksturnya, pilihan warnanya, sampai dengan kualitas packaging-nya yang mewah dan konsisten pakai warna nude.

Kalau boleh jujur, ada masa saya nggak suka BLP karena ketika itu produk-produk yang saya pilih nggak sesuai dengan saya. Ketika itu saya cuma punya BLP Lip Coat Butter Fudge, yang kebetulan keluaran awal dan kualitasnya nggak begitu bagus. Lip Coat yang saya nggak begitu suka ini pernah saya review juga di blog ini. Lalu menyusul saya nitip teh Reiny BLP Face Powder shade Medium Beige, yang warnanya terlalu gelap buat saya.

Baca juga: Review BLP Lipstick - All Varian

Tapi setelah mencoba banyak produknya, dengan pilihan shade yang cocok untuk saya, saya malah jadi jatuh cinta. Bahkan setelah nyoba Face Powder BLP shade Beige, bedak ini malah jadi favorit saya banget yang nggak tergantikan oleh produk lain. Karena ya sebagian besar produknya memang kualitasnya gils beud! Ada sih beberapa yang saya nggak suka, tapi wajar kan, makeup memang begitu? Dalam satu brand yang produknya banyak, kayaknya nggak mungkin ada yang kita nggak suka. Karena brand makeup kan bukan Nicholas Saputra yang adalah kesempurnaan. Tapi ya overall, produk-produk BLP bikin saya kecantol.

Lihat juga: Review Bedak Berbagai Brand

Nah, kembali ke Face Base BLP dan Face Concealer BLP ya. Jadi pas launching, saya termasuk salah satu mbak-mbak instagram yang beruntung bisa nyobain produk mereka. Jadi saya dikirimin satu set, yaitu Face Base, Face Concealer, dan Easy Blend. Semacam rejeki anak famous. Pas nyoba saya langsung jatuh cinta sama Face Base dan Easy Blend-nya, karena memang secara tekstur, formula, finish yang saya dapat, sampai kemasannya, sesuai banget dengan selera saya. Produknya juga tahan lama di kulit kering saya.

Tapi ketika mencoba Face Concealer-nya, saya nggak begitu suka. Sebenarnya Face Concealer BLP ini hasilnya bagus sekali, full coverage, nggak creasing, dan tahan lama. Perfect-lah kalau dilihat dari hasil pemakaiannya. Cuma saya agak nggak merasa nyaman dengan tekstur atau konsistensinya yang super kental. Kalau kalian pernah mencoba Tarte Shape Tape Concealer, nah, ini mirip banget! Ini exactly dupe sih menurut saya, kecuali soal pilihan shade!

Banyak yang protes ketika saya bilang di IG Story @racunwarnawarni kalau saya nggak terlalu suka dengan Face Concealer ini. Protesnya ya bisa banget dipahami, karena saya tahu persis hasil produk ini sangat bagus, dan banyak banget beauty enthusiast yang tergila-gila dengan Tarte Shape Tape Concealer. Jadi ketika ada dupe yang sukses dari brand lokal, banyak yang nggak terima dong ketika saya bilang nggak suka wkwkwkw..


Jadi ketika saya me-review produk makeup, foundation/ concealer khususnya, poin yang penting buat saya adalah:

  1. Tekstur dan formula
    Apakah mudah di-blend atau tidak, pakainya gampang nggak, aromanya enak atau enggak, dan yang paling penting apakah saya "menikmati" saat memakainya.
  2. Finish
    Hasilnya matte atau glowy, coverage-nya full atau sheer, shade-nya cocok atau enggak di kulit saya, hasilnya halus atau malah accentuate pore dan dry patch area, dan lain-lain.
  3. Daya Tahan
    Bagaimana kondisi muka saya setelah beberapa jam pemakaian, creasing atau enggak, bagaimana kondisi area lipatan seperti cuping hidung dan bawah mata, lalu apakah minyak muka saya keluar atau malah muka saya semakin kering.
  4. Kemasan
    Karena saya kan mbak-mbak IG ya, jadi riya adalah segalanya. Produk yang kalau difoto flatlay atau dijadikan background selfie hasilnya cakep itu nilainya nambah.
  5. Lain-lain
    Nah, baru setelah keempat di atas saya bedah, saya akan melihat faktor lain yang menurut saya nggak terlalu penting seperti misalnya harga. Anaq sultan bebas. Lalu ketersediaan atau kemudahan membeli, konsep atau value lain dari brand tersebut, dan faktor-faktor lain. Faktor ingredient kalau untuk makeup, saya masukkan ke lain-lain. Tapi kalau untuk skincare justru nomer satu.
Nah, dalam kasus BLP Face Concealer dan Tarte Shape Tape Concealer, produk tersebut nilainya sempurna di nomer 2-5, namun dari sisi tekstur saya kurang suka. Teksturnya bikin saya nggak menikmati memakai produk ini. Dan bagi saya itu penting, karena makeup bukan melulu soal hasil, tapi juga proses saat memakainya. Untuk bikin produk tersebut jadi favorit saya, saya harus menikmati dulu proses saat saya berdandan.

Hal yang sama terjadi juga kepada beberapa brand beauty sponge. Saya suka sekali pakai beauty sponge, sampai koleksi banyak merek untuk membandingkan performanya. Rata-rata sih hasil akhir makeup-nya ya mirip-mirip aja. Sama-sama bisa dipakai untuk meratakan foundation dengan hasil yang cenderung natural dan rata. Namun nggak semua beauty sponge memberikan saya pengalaman ena-ena saat memakainya. 

Kalau boleh jujur, saya nggak terlalu suka memakai sponge merek Mad For Makeup, Tammia, Armando Caruso, Pixy, dan Expert. Tapi saya suka dengan sponge merek Karis, Beauty Blender, Real Techniques, dan BLP x Jacquelle. Walau kalau secara hasil pemakaian, sponge yang nggak saya suka tersebut hasilnya ya bagus-bagus aja, lebih murah pula!


Menurut kalian gimana? Prioritas saya ngaco nggak sih untuk menyebut suatu makeup bagus? Kalau kalian sendiri, proses atau saat kita mengaplikasikan makeup itu penting nggak sih? Atau nggak begitu penting, yang penting hasilnya bagus dan awet saja? Atau penting murah?

Mari berdiskusi!

Rekomendasi Essential Oil Favorit dari Brand Lokal

26 comments

Saya lagi suka nyobain essential oil dari berbagai brand lokal. Kenapa lokal? Ya, karena harganya masuk akal dan belinya gampang. Essential oil lokal ini biasanya punya website resmi dan official shop di marketplace, dan kalau mau beli juga nggak perlu (( member-member-an )). Secara kualitas juga banyak yang bagus kok.

Nah, kali ini saya mau ngasih review essential oil lokal yang kualitasnya bagus. Untuk membandingkan berbagai macam essential oil ini, caranya yang saya perbandingkan adalah aroma Lavender. Kenapa? Karena Lavender ini yang paliiiing kerasa deh beda aromanya antara merek satu dengan yang lainnya. Kalau aroma lain seperti Lemongrass misalnya, merk mahal ataupun murah menurut hidung saya aromanya sama. Dan lagi saya suka banget sama Lavender Essential Oil. Aromanya menenangkan dan bikin saya tidur lebih nyenyak. Jadi kalau nyobain essential oil merek baru, saya biasanya coba varian Lavender (meskipun nggak selalu).

Lavender sendiri ada bermacam-maca varietasnya ya. Dan masing-masing varietas punya kekuatan aroma yang berbeda. Tapi ya udah lah ya saya males nulis kalian pasti juga males mikir wkwkwk.. Saya juga nggak mau meng-klaim merek yang ini palsu dan yang ini asli, karena itu di luar kapasitas saya. Banyak artikel yang menuliskan cara membedakan essential oil asli dengan yang palsu, tapi menurut saya itu nggak valid. Uji keaslian begini harus dilakukan di lab.

Lalu satu permasalahan lagi, di Indonesia tuh belum ada aturan pasti soal labeling essential oil. Misal untuk melabeli therapeutic grande essential oil, mereka harus mendaftar dan mengujikan ke badan mana dan apa jaminannya kalau mereka beneran therapeutic grade. Jadi yaaa...bingung akutuh. Jadi saya di sini akan bahas soal aromanya dan selera pribadi aja ya.

Baca juga: Bikin Nyaman Suasana #DiRumahAja Dengan Essential Oil

Nah, ini dia rekomendasi Lavender Essential Oil dari brand lokal, saya urutkan dari yang paling saya suka ya:

Review Organic Supply Co Essential Oil Lavender

1. Organic Supply Co. Essential Oil

Organic Supply ini pakai jenis Lavandula Angustifolia. Organic Supply meng-klaim bahwa produknya certified organic. Saya paling suka desain kemasan Organic Supply di antara merek essential oil lokal yang lain. Saya suka mereka ngasih label nama di bagian atas botol, jadi memudahkan pencarian kalau pas mau diffuse aroma tertentu, karena saya menyimpan koleksi essential oil saya di dalam satu kotak dalam keadaan berdiri. Lalu kelebihannya lagi, jenis varian essential oil yang mereka punya itu lengkap banget. Sepertinya paling lengkap deh dibandingkan merk lain.

Tapi yang bikin saya suka banget sama Organic Supply ini adalah aroma Lavender-nya kuat banget. Aromanya langu dan sedikit ada manis-manisnya. Kalau dibandingkan dengan Lavender Essential Oil Young Living, Organic Supply ini lebih manis, sementara Young Living sedikiiiittt lebih ke arah langu (entah mana yang lebih baik), walau bedanya benar-benar tipis sekali. Tapi soal kepekatan aromanya sama. Butuh sedikit banget untuk diteteskan ke diffuser, dan aromanya udah kecium. Dan kalau dibandingkan dengan essential oil dari brand lokal lainnya, Lavender Essential Oil Organic Supply ini yang paling mendekati Essential Oil Young Living.

Dari Organic Supply ini, selain Lavender saya juga mencoba aroma Peppermint, Grapefruit, Dream, dan Her, dan cukup puas sama semuanya. Untuk kekurangannya, harga Organic Supply ini relatif lebih mahal dibandingkan brand lokal lain, meski nggak semahal harga Young Living ya. Tapi kualitasnya sesuai sama harganya, jadi saya nggak mau (( sambat )). Lavender Essential Oil Organic Supply harganya Rp.155.000/ 5 ml, yang berarti per-ml-nya adalah Rp.31.000.


2. Rumah Atsiri Indonesia Essential Oil

Sebenernya agak nggak adil membandingkan essential oil yang ini dengan yang lain, karena Essential Oil Rumah Atsiri yang saya punya ini jenisnya Lavandin, yaitu persilangan antara Lavandula Angustifolia dengan Lavandula Latifolia. Jenis Lavandin ini katanya punya aroma yang lebih kuat dari Lavender biasa, jadi sering dipakai dalam industri parfum.

Hal yang saya suka dari Rumah Atsiri adalah, mereka ini jelas banget asal tanamannya dari mana dan produksinya bagaimana. Karena selain jualan essential oil, mereka juga punya tempat pengembang-biakan tanaman dan tempat produksi, yang bisa dikunjungi untuk tujuan piknik sekaligus edukasi. Lokasinya ada di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Kalian bisa cek sendiri website-nya, karena saya nggak mau kepanjangan. Saya kepingin ke sana tapi masih terhalang pandemi :(.

Tapi jujur, Lavender Essential Oil Organic Supply masih jauh lebih pekat daripada Lavandin Essential Oil Rumah Atsiri. Lavandin Essential Oil Rumah Atsiri ini aromanya lebih tipis, cenderung langu dan terasa samar tercium aroma seperti kayu putih. Namun tetap saja aroma Lavandin Rumah Atsiri ini menyenangkan ya, cukup tercium kalau di-diffuse. Ada alasan kok saya taruh dia di nomor dua.

Harga Essential Oil Rumah Atsiri ini cukup terjangkau lho. Untuk Lavandin Essential Oil ini dibandrol dengan harga Rp.130.000/ 10ml. Jadi per-ml-nya hanya Rp.13.000 saja. Varian essential oil-nya lumayan banyak, ada 24 jenis. Kalau cari yang aneh-aneh kayak Marjoram atau Clary Sage di Rumah Atsiri jelas nggak ada. Walau nggak selengkap Organic Supply, tapi itungan mereka tanam sendiri di lahan sendiri di Indonesia, ini lumayan lengkap lho!

Review Nares Essential Oil Lavender

3. Nares Essential Oil

Satu lagi produk yang memberdayakan masyarakat dan petani lokal, yaitu Nares Essential Oil. Mereka nggak seperti Rumah Atsiri yang punya perkebunan sendiri, namun mereka mengambil bahan bakunya dari petani lokal. Kalian bisa follow aja instagram mereka, Nares ini kadang suka story-in saat mereka panen atau produksi essential oil-nya.

Oke, langsung ke Lavender Essential Oil-nya ya. Jadi sebenernya aromanya nggak terlalu pekat, namun masih enak dan tercium kalau ini Lavender. Dan ketika di-diffuse aroma Lavender-nya benar-benar enak dan menenangkan, lebih ke manis dibandingkan langu. Nares ini teksturnya cenderung cair dan tidak oily. Untuk jenis Lavender yang digunakan, saya nggak tahu karena mereka nggak mencantumkan keterangan.

Harga Lavender Essential Oil Nares ini adalah Rp.210.000/ 10 ml, atau Rp.21.000 per-ml. Saya sendiri membeli punya saya ini pas lagi program diskon dan jadi Rp.170.000 saja. Harganya tergolong tinggi di-antara essential oil lokal kebanyakan, tapi setara kok dengan kualitasnya.

Dan Nares adalah satu-satunya essential oil lokal yang saya tahu, yang meng-klaim kalau produknya food grade. Meskipun berdasarkan banyak artikel yang saya baca, dan saya yakini, essential oil tidak untuk ditelan! Young Living sekalipun sebaiknya jangan ditelan! FYI, banyak EO enthusiast di luar negri yang memrotes karena marketing Young Living yang seringkali menganjurkan penggunanya untuk mengonsumsi EO mereka dengan cara ditelan, padahal sebenarnya tidak boleh. Kalian bisa riset sendiri mengenai ini (No hate ya. Beneran lakukan risetmu, jangan cuma fanatik sama suatu merek dan lalu percaya aja sama apapun yang mereka katakan).

Kekurangannya, Nares ini cuma menyediakan 17 essential oil saja. Tapi ya lagi-lagi, dia hanya ambil dari petani lokal, jadi pasti terbatas. Dan tentunya saya berharap mereka akan melakukan penambahan jenis tanaman lagi. Go, Nares!



Nah, itu dia tiga essential oil lokal yang saat ini jadi favorit saya. Karena saya udah nemu yang saya suka, saya biasanya membeli dari tiga merk tersebut. Tapi saya juga sudah cobain beberapa Lavender Essential Oil dari merek lokal yang lain. Saya review aja sekalian ya biar nggak mubazir udah saya cobain:

Review Natuna Essential Oil Lavender

4. Natuna Essential Oil

Natuna ini punya varian essential oil yang sangat lengkap, bahkan lebih lengkap daripada Organic Supply, dan harganya sangat murah. Harga Lavender Essential Oil Natuna hanya Rp.58.325/ 10ml, atau Rp.6000 saja per-ml! Lavender yang digunakan adalah Lavandula Angustifolia.

Walau murah, namun aromanya cukup menyenangkan. Tipis, tapi tercium dan nggak bikin pusing. Jadi kadang merek ini jadi jujukan saya kalau sedang ingin tahu aroma varian essential oil tertentu yang belum pernah saya embus. Ya daripada langsung beli yang mahal, dan ternyata saya nggak suka aromanya? Dan Natuna Essential Oil juga meng-klaim produk mereka certified organic dan therapeutic grade.

Murah dan aromanya enak, lalu kenapa tidak favorit? Ini hubungannya sama trust aja sih. Saya nggak bisa menemukan cukup informasi mengenai Natuna Essential Oil, mengenai dari mana bahan bakunya dan dimana produksinya. Website mereka juga sama sekali nggak informatif, cuma langsung merujuk ke penjualan. Lalu mereka punya cukup banyak essential oil blend, namun tidak dijabarkan ingredient atau campuran essential oil di dalam-nya apa-apa saja. Tapi selain persoalan trust ini, Natuna Essential Oil cukup oke kok. Silahkan di coba.

Review Nusaroma Essential Oil French Lavender

5. Nusaroma Essential Oil

Yang saya punya adalah varian French Lavender, Lavandula Angustifolia. Harga French Lavender Essential Oil Nusaroma ini adalah Rp.131.500/ 10 ml, atau per-ml-nya Rp.13.000 saja. Cukup terjangkau kan? Aroma French Lavender ini juga lumayan kuat di botol, bahkan lebih kuat bila dibandingkan Lavender Essential Oil Rumah Atsiri dan Nares, walau belum sekuat aroma Lavender Essential Oil Organic Supply dan Young Living. Namun entah kenapa, ketika di-diffuse aromanya seakan tenggelam. Jadi saya ngerasa kurang aja gitu lho.

Tapi Nusaroma ini lumayan informatif penjelasan di website-nya, dan saya coba Essential Oil Cedarwood dan Roman Chamomile-nya lumayan oke. Jadi mungkin saya akan coba-coba lagi aroma lain dari merek ini.


6. Fraganic Essential Oil

Fraganic ini harganya sangat-sangat terjangkau. Harga Lavender Essential Oil Fraganic adalah Rp.56.000/ 10ml, atau Rp.5600 per-ml-nya. Namun variannya sangat-sangat terbatas ya, hanya ada 7 varian aroma essential oil. Untuk faktor trust, saya cukup percaya dengan merek ini karena informasi yang dilampirkan saat mereka mengirimkan produk kepada saya sangat-sangat jelas, dan saya pribadi juga sudah ngobrol-ngobrol dengan mereka. Mungkin kapan-kapan saya kepingin interview owner-nya, dan akan saya rangkum dalam satu post kalau beliau berkenan. Saya yakin akan banyak insight dan pengetahuan baru soal essential oil.

Namun bicara soal Lavender Essential Oil-nya, jujur saja saya kurang suka karena aromanya tidak tercium di hidung saya. Malah cenderung seperti aroma minyak kayu putih dengan sedikit aroma manis tipis-tipis saja. Namun saya menikmati aroma lain selain Lavender yang mereka punya. Tekstur Fraganic Essential Oil ini cenderung berminyak. Diffuser saya pasti licin kalau habis diffuse Fraganic Essential Oil varian apapun.

Tapi overall, saya pakai essential oil mereka untuk DIY Reed Diffuser. Karena cukup murah, jadi saya nggak sayang-sayang pakai untuk reed diffuser. Dan aroma lain selain Lavender enak-enak dan keluar lho!

Baca juga: Perawatan Rambut Rutin Untuk Rambut Kering, Rontok, dan Diwarnai

Darjeeling saya udah habis, jadi foto saya ambil dari instgram @racunwarnawarni #DekArumEmpties

7. Darjeeling Aroma Essential Oil

Brand Darjeeling ini sebenarnya punya website yang bentukannya lumayan oke. Tapi saya agak bingung membaca keterangan-keterangannya, karena tulisannya itu seperti tulisan bahasa inggris yang di-google translate dan di-copas mentah-mentah. Jadi susunan kalimatnya aneh mohon maaf sekali jadi saya tu nggak paham baca tulisan di web mereka tapi mungkin saya yang koplo T.T.

Tapi sepenangkapan saya, mereka adalah merek lokal. Essential oil-nya supeeerrr lengkap dan supeeerrr murah. Essential oil mereka adalah yang termurah yang pernah saya temukan. Bayangkan aja, French Lavender mereka dihargai Rp.42.000/ 10ml saja, atau hanya Rp.4200 per-ml!

Namun sayangnya pengalaman saya mencoba essential oil ini kurang menyenangkan. French Lavender-nya aromanya sangat-sangat kuat dan enak ketika di botol, namun pas di-diffuse malah (( mlepek )) banget dan bikin sesak serta pusing. Aromanya seperti parfum artifisial yang sangat kuat. Suami saya sampai protes ketika saya diffuse ini, padahal saya cuma pakai 2 tetes saja untuk 180 ml air. Tapi saya ada rencana membeli lagi sih. Karena aromanya sangat kuat, jadi sepertinya akan asik sekali dipakai sebagai reed diffuser atau DIY-DIY pewangi ruangan yang lain. Namun bukan untuk keperluan ultrasonic diffuser.

Baca juga: Bedanya Diffuser Mahal Dengan Diffuser Murah



Perbandingan Essential Oil Dari Brand Lokal

Nah, itu dia Lavender Essential Oil lokal yang pernah saya coba, saya urutkan dari yang paling saya suka sampai yang nggak saya suka. Foto Young Living Essential Oil hanya sebagai pembanding ya, karena YL memang yang paling familier saat ini. Jangan tanya yang tidak saya sebut ya, karena itu berarti saya belum coba!

Tapi seperti bisa dibaca, ketika saya nggak suka pun, sebenernya bukan berarti merek tersebut jelek. Darjeeling misalnya, saya nggak suka karena aromanya kuat sekali. Tapi untuk orang yang mencari aroma yang kuat, atau untuk kebutuhan pewangi ruangan DIY candle misalnya, mungkin Darjeeling malah jadi andalan.

Semoga postingan ini membantu, untuk kamu-kamu yang hendak mencoba essential oil lokal ya ;).

Review Nutrilash, Serum Bulu Mata dan Alis Dari Brand Lokal Nutrishe

102 comments
Review Nutrilash Serum Bulu Mata/Eyelash Serum dari Nutrishe

Saya memang terlahir dengan bulu mata minimalis. Dan ya, memang tekstur rambut mata saya ini adalah tipe yang pendek, lurus, dan helaiannya sangaaatttt tipis. Pakai maskara merek apapun, nggak bakal nolong deh! Nggak bakalan kelihatan.

Dan saya anaqnya juga tahu diri kok. Saya nggak berharap bulu mata saya jadi panjang dan badai setelah memakai serum bulu mata apapun. Problem bulu mata saya lebih ke kerontokan. Hampir setiap kucek-kucek mata atau kalau bersihin maskara, pasti ada rontoknya. Itulah kenapa saya jarang banget pakai maskara. Tapi memang rasanya kurang maksimal sih kalau makeup nggak pakai maskara, karena bulu mata asli dan bulu mata palsu saya jadi kelihatan banget misah-misah dan nggak natural. Makanya saya berharap banget review Nutrishe Nutrilash Serum ini mampu menguatkan dan mengurangi kerontokan bulu mata saya.

Tapi walau demikian, pas saya pamer serum bulu mata ini di Instagram story @racunwarnawarni, banyak yang DM ngasih respon, kalau serum dari Nutrishe ini ngefek untuk menebalkan atau memanjangkan bulu mata mereka. Jadi memang Nutrishe juga ada efek memanjangkan dan menebalkan bulu mata.

Nah, gimana hasilnya di saya setelah satu bulan pemakaian nih? Apakah menguatkan, memanjangkan dan menebalkan bulu mata saya? Baca review-nya ya ;).


Ingredient Nutrishe Nutrilash Eyelash & Eyebrow Serum

Ingredient Nutrilash Eyelash Serum Nutrishe

Bisa dilihat, serum ini oil base. Mostly ingredient-nya adalah natural oil yang sudah lama dipercaya dapat menyuburkan rambut dan bulu tubuh, seperti Castor Oil, VCO, Olive Oil, Sweet Almond Oil, Grapeseed Oil, Argan Oil, dan Rose Oil. Kalau ngomongin perawatan natural untuk rambut, dari artikel-artikel yang pernah saya baca memang hampir selalu menyarankan Castor Oil dan VCO. Dan dua jenis minyak tersebut ada di urutan pertama dan kedua di ingredient list, yang berarti jumlahnya adalah yang paling banyak dibandingkan yang lainnya.

Castor Oil ini seriiiing banget deh di-mention kalau ngomongin perawatan rambut. Castor Oil mengandung asam risinoleat dan asam lemak esensial omega-6, yang memberi nutrisi dan memperkuat akar rambut. VCO juga sama, bisa memperkuat akar rambut. Sementara Sweet Almond Oil dipercaya bisa menambah volume atau ketebalan rambut. Dan keseluruhan minyak ini bisa membantu melembapkan, menyehatkan, dan melindungi bulu mata kita.

Baca juga: Perawatan Rambut Rontok, Kering, dan Diwarnai

Selain minyak-minyakan, serum ini juga diperkaya dengan Vitamin E (Tocopheryl Acetate) yang merangsang pertumbuhan rambut, dan Vitamin H (Biotin atau B7) yang sudah lama terkenal manfaatnya untuk menguatkan dan menebalkan rambut, serta mengurangi kerontokan. Dan produk ini diformulasikan tanpa unsur hewani, pengawet, pewarna, dan alkohol.

Bulu yang bisa dirawat dengan Nutrishe Nutrilash Serum ini bukan cuma bulu mata, tapi bulu alis juga. Namun saya nggak pakai untuk alis, karena selama masa pandemi ini saya kan nggak bisa brow waxing. Jadi saya khawatir alis saya jadi lebat dan saya nggak bisa merapihkannya. Jadi saya pakai serum ini di bulu mata saja.


Formula Nutrishe Nutrilash Eyelash & Eyebrow Serum

Formula dan Tekstur Serum Bulu Mata dan Alis Nutrilash dari Nutrishe

Sudah terlihat dari ingredient list-nya ya, bahwa tekstur serum ini oily. Ya iyalah. Isinya kan oil. Kalau isinya kecap jadinya kecapy wkwkwk. Tapi oil-nya cukup ringan. Nggak begitu pekat, dan kalau kena ke kulit nggak lengket dan lumayan cepat meresap.

Tapi ya namanya minyak, seringan-ringannya pun, kalau dipakai di bulu mata ya secukupnya aja, nggak perlu sampe bikin bulu mata jadi (( klomoh )) banget gitu. Karena kalau kebanyakan, rasanya malah mata terasa bruwet dan nggak nyaman.

Tapi saya pernah pakai kebanyakan sih pas awal-awal pemakaian, dan di mata saya efek negatifnya ya cuma bikin pandangan bruwet dan mata rasanya berair aja gitu. Nggak bikin perih, atau belekkan pas pagi-paginya. Padahal mata saya lumayan sensitif lho! Jadi saya nggak khawatir pakai ini lebih lanjut.

Untuk aromanya, kalau nggak diendus bener-bener, produk ini seperti nggak berbau. Tapi kalau dicium dengan (( serius )), baru tercium aroma khas minyak yang bercampur sedikit aroma floral. Aromanya sangat lembut dan cukup enak menurut hidung saya.


Aplikator dan Kemasan Nutrishe Nutrilash Eyelash & Eyebrow Serum

Kemasan Nutrilash Serum dari Nutrishe

Nutrishe Nutrilash Eyelash and Eyebrow Serum ini dikemas dalam botol kaca warna gelap ukuran 15 ml, seperti botol essential oil. Warna gelap pada botol ini penting agar isinya lebih terlindungi dari sinar matahari, yang bisa menurunkan khasiatnya.

Baca juga: Bikin Nyaman Suasana Rumah Dengan Essential Oil

Aplikatornya berupa spoolie brush, yang terpisah dari botolnya. Jujur, awalnya saya nggak suka dengan aplikatornya yang terpisah gini ya. Karena pikir saya waktu itu, kenapa nggak dikemas dalam botol seperti maskara saja, dengan spoolie yang menempel sekalian pada tutupnya? Kan lebih praktis? Tapi setelah mencoba sendiri, saya baru paham kenapa.

Bentuk kemasan ini memang yang terbaik untuk teksturnya yang minyak, pemakaiannya memang cukup sedikit-sedikit. Kalau spoolie-nya dicelup ke produk, produk yang terambil malah akan kebanyakan dan rasanya jadi nggak nyaman. Percaya deh! Awal pakai produk ini, karena nggak ngerti, saya malah buka penyekatnya dan celupin spoolie ke dalam produk. Walhasil muataku bruwet!

Aplikator Serum Bulu Mata dan Alis Nutrilash dari Nutrishe

Nah, cara mengambil produk ini cukup unik nih. Saya pun baru tahu setelah baca blogpost mbak KinanReview yang ini. Jadi, spoolie-nya dimasukan ke lubang botol bagian samping (salah satu sisi sekat botol ini ada yang menjorok ke dalam dan berlubang di ujungnya). Cara ini bisa mengambil sedikit produk dengan jumlah yang pas untuk dipakai ke satu bulu mata. Dan karena sekali pemakaian memang sedikit-sedikit banget, satu bulan pemakaian produk ini masih seperti baru, nggak berkurang sedikit pun. Super awet!

Botol Nutrilash Serum

Untuk desain kemasannya, saya cukup suka dengan desain kardusnya. Pemilihan warna dan font-nya bagus dan terkesan girly banget! Tapi saya kurang suka dengan desain botolnya. Bukan bentuknya, tapi desain tulisan dan gambar secara estetika saja. Ini sih soal selera saja yaaa, bukan hal yang terlalu penting. Yang jelas dan lebih penting, tulisan di botolnya informatif kok. Selain nama dan logo produk, juga tertera cara pemakaian, ingredient list, BPOM, PAO, dan expired date. Komplit, bukan?

Dan yang terpenting juga, tutup botolnya rapat dan secure, lalu botol kacanya tebal, sehingga produk ini boleh dibilang travel friendly.


Cara Pemakaian Nutrishe Nutrilash Eyelash & Eyebrow Serum

Nutrilash Serum Bulu Mata dan Alis dari Nutrishe

Kalau dari saran pemakaian di kemasannya, produk ini dipakai di malam hari saja. Tapi saya pakai pagi dan malam karena saya anaq yang rajin dan keibuan dan penyayang. Yaaa...siang kan juga nggak kemana-mana secara lagi physical distancing. Jadi ya saya pakai aja kalau nggak pas lagi bikin makeup look.

Nah, kalau menurut saya, nutrisi bulu mata itu ya dari akarnya. Jadi pas pakai, saya kena-in ke akar bulu mata, selain ke helaian bulu matanya juga. Cara ini nyaman-nyaman aja kok. Nggak bikin mata bruwet asal nggak berlebihan, dan sama sekali nggak perih.


Hasil Setelah Satu Bulan Pemakaian Nutrishe Nutrilash Eyelash & Eyebrow Serum

Before After Nutrilash Serum Bulu Mata dan Alis dari Brand Lokal Nutrishe

Awalnya saya nggak begitu notice perubahan signifikan pada panjang dan volume bulu mata saya. Di foto before-after juga nggak kelihatan sama sekali kan? Tapi, ketika saya perhatikan pas pakai maskara, memang bulu mata saya kelihatan lebih "ada". Nggak terlalu mencolok perbedaannya, tapi ada progress-nya.

Terus saya punya area gundul juga di bulu mata bawah sebelah kiri. Sayangnya area itu tidak menunjukkan perubahan apa-apa.

Tapi untuk efek menguatkan, nah, ini nih yang baru sangat terasa! Sekarang bulu mata saya udah nggak gampang rontok. Terakhir bersihin maskara pun nggak ada rontok sama sekali. Seneng! Jadi nggak takut lagi deh pakai maskara :'). Dan karena ini udah mau new normal kan ya, yang berarti sudah akan diperbolehkan ke salon lagi untuk brow waxing (iya nggak sih?), mungkin saya akan mulai coba pakai untuk alis juga ah. Siapa tau habis sebotol saya jadi Cara Delevingne.

Eh eh tapi tapi....bulu mata rontok itu mitosnya tanda kangen. Kalian tetep kangen sama saya kan walau bulu mata saya udah nggak rontok? :(.


Recomended?


Review Nutrilash Serum Bulu Mata dan Alis Racunwarnawarni

Beberapa follower instagram @racunwarnawarni bilang kalau Nutrishe Nutrilash Serum ini ngefek banget buat nambah panjang dan volume bulu mata dan juga alis. Tapi kalau buat saya, efeknya lebih ke menguatkan dan mengurangi kerontokan secara signifikan.

Jadi kalau saya sih, merekomendasikan serum ini untuk yang bulu matanya sering rontok kayak saya, atau untuk yang baru lepas eyelash extention. Karena kalau habis ekstensyen kan biasanya bulu matanya rontok parah kaan?


Harga Nutrishe Nutrilash Eyelash & Eyebrow Serum


Review Nutrilash dari Nutrishe

Satu botol Nutrishe Nutrilash Serum ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp.70.000/ 15 ml. Sangat terjangkau secara ini beneran bisa dipakai lama dan nggak habis-habis. Untuk cara pembelian dan info produk-produk lain dari Nutrishe, silahkan ke instagram @nutrisheofficial atau ke website Nutrishe.


GIVEAWAY [CLOSED!]

Review Nutrilash Serum Bulu Mata dan Alis Racunwarnawarni

Pemenangnya @ayubeany

Review Lacoco Dark Spot Essence dan Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++

8 comments
Review Lacoco Dark Spot Essence dan Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++
Review Lacoco Dark Spot Essence dan Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++

Lacoco adalah salah satu brand skincare lokal yang produknya selalu saya tunggu dengan excited. Saya udah mencoba beberapa produk Lacoco, yaitu Lacoco Eye Serum, Lacoco Watermelon Glow Mask, Lacoco Aloe Vera Soothing Mist, dan Lacoco Bust Fit, dan memang selalu puas banget pakainya. Ingredient produk-produknya cenderung singkat/ minimalis, tapi padat dengan bahan-bahan yang memang poten.

Nah, baru-baru ini Lacoco mengeluarkan dua produk baru, yaitu Lacoco Dark Spot Essence dan Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++, yang merupakan produk exfoliating serum lokal dan produk sunscreen lokal dengan tekstur yang super enak. Produk ini sudah saya coba satu bulan lebih, bahkan sudah saya repurchase lho, keduanya sudah masuk botol kedua.

Saya akan bagikan pengalaman saya memakai kedua produk ini, bagus atau tidak, dan juga before-after setelah pemakaian satu bulan ;).


Formula dan Ingredient Lacoco Dark Spot Essence

Formula dan ingredient lacoco dark spot essence
Review Lacoco Dark Spot Essence

Ketika mendengar namanya yaitu Lacoco Dark Spot Essence, saya pikir main ingredient-nya adalah bahan-bahan pencerah seperti vitamin C, Arbutin, dan lain-lainnya. Tapi ternyata ini adalah sebuah exfoliating serum! Jujur buat saya, si kecil ini jadi lebih menarik. Karena saat ini, saya sedang memakai beberapa actives ingredient baru yang lumayan berpotensi irritant, jadi saya skip produk-produk eksfoliasi, karena acid toner yang saya punya memang lumayan keras. Nah, Lacoco Dark Spot Essence ini menawarkan mild exfoliating, yang tentunya sedang saya butuhkan sekali saat ini.

ingredients lacoco dark spot essence
Ingredient Lacoco Dark Spot Essence

Kandungan chemical exfoliant-nya adalah
  • 5% AHA (Glicolic Acid)
  • 1% BHA (Salicylic Acid
  • 2% PHA (Gluconolactone)
  • 2% Tranexamic Acid
Cenderung mild bila dibandingkan dengan acid toner-acid toner kekinian, yang bahkan berani memasukan AHA dan BHA sampai dengan level 7% dan 3%, namun juga nggak cemen-cemen banget juga. Apalagi ini bentuknya essence/ serum, yang biasanya efek iritasinya nggak sekenceng produk eksfoliasi dalam bentuk toner. Dan menurut saya ini bagus buat saya yang memang sedang mencari produk eksfoliasi yang bisa ditandemin sama ingredient lain yang juga lumayan powerfull, yang sedang saya pakai (seperti Retinol dan Vitamin C). Buat saya, presentase ini cukup efektif dan terasa kerjanya di kulit saya, namun minim resiko iritasi.

(Oh iya, saya nggak melirik acid toner Korea yang super mild seperti Benton Aloe BHA Toner atau Some By Mi 30 Days Miracle Toner, karena nggak ada efek apa-apa di kulit saya. Cuma seperti usep-usep air doang wkwkwk.. Tapi ini di saya ya. Kalau di kulit kalian mungkin berbeda efeknya).

Selain mengandung acid yang saya sebutkan di atas, Lacoco Dark Spot Essence ini juga dilengkapi dengan Niacinamide, Mulbery Extract, dan Licorice Extract, yang kita semua tahu sangat berguna untuk mencerahkan kulit. Lalu formulanya juga dibuat aman tanpa kandungan paraben, alkohol, silicone, dan suflate.

Keseluruhan kandungan dalam essence ini berguna untuk:
  • Memudarkan dan mencegah munculnya flek/ hyperpigmentation
  • Deep cleansing sampai ke pori-pori, mengangkat sel kulit mati
  • Mencerahkan
  • Anti-aging, merangsang pertumbuhan kolagen
  • Memperbaiki tekstur kulit
  • Mengurangi komedo dan jerawat
texture lacoco dark spot essence
Tekstur Lacoco Dark Spot Essence

Tekstur essence ini serumy, terasa seperti lotion yang gelish. Duh, bingung jelasinnya. Pokoknya super enteng dan cepat menyerap ke kulit tanpa meninggalkan rasa dan lapisan apapun. Spredability-nya cukup tinggi, jadi sedikit produk saja sudah bisa diratakan ke seluruh wajah.

Di kulit saya, efek eksfoliasi dari Lacoco Dark Spot Essence ini cukup "nendang". Saya udah sekitar satu bulan skip semua exfoliating product apapun, baik chemical maupun physical. Dan ketika pertama kali saya pakai exfoliant lagi, yaitu Lacoco Dark Spot Essence ini, rasanya agak cekit-cekit atau tingling di beberapa area, terutama area-area yang berjerawat atau ada luka terbuka. Whichis normal sih ya untuk yang baru awal-awal pakai. Setelah beberapa kali pemakaian (di saya setelah tiga hari pemakaian) efek tingling ini akan mereda karena kulit sudah beradaptasi. Hanya terasa cekit-cekit bila terkena area yang ada luka saja.

Oh iya, soal efek tingling ini, saya sepenuhnya menyerahkan kepada masing-masing pemakai ya. Kalau misalkan kamu merasa efek tingling ini nggak bisa ditahan, ya sudah, jangan dipakai lagi. Atau malah kalau di kamu pemakaian essence ini nggak ada efek tingling sama sekali, ya bagus dong! Tingling adalah efek samping yang normal terjadi di pemakaian pertama produk exfoliant, tapi nggak harus selalu terjadi juga. Nggak tingling juga malahane.

Pemakaian Lacoco Dark Spot Essence bikin kulit lebih "bersih" dan sel kulit mati terangkat, sehingga efeknya kulit lebih cerah dan bebas komedo. Serta bahan aktif lain yang saya pakai bareng essence ini juga bekerja dengan lebih optimal.

Baca juga: Review Lacoco Watermelon Glow Mask & Eye Serum


Formula dan Ingredient Lacoco Daily UV Counter SPF 50/ PA++

Formula dan Ingredients Sunscreen Lacoco Daily UV Counter SPF 50/ PA++
Tekstur Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++

Kalau ada produk lokal yang selalu saya tunggu-tunggu, itu adalah SUNSCREEN. Sunscreen adalah sesuatu yang wajib selalu kita pakai setiap hari dalam jumlah yang banyak, jadi tentu sunscreen adalah produk yang paling sering saya beli. Saya rajin explore sunscreen karena saya mau sunscreen yang saya pakai benar-benar nyaman, biar nggak malas pakai dalam jumlah banyak dan juga reaply.

Awalnya ketika tahu Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++ ini adalah hydbrid sunscreen (gabungan antara chemical dan mineral sunscreen), dengan perlindungan setinggi ini, dan juga dengan formula yang tanpa alkohol; saya mengira kalau sunscreen ini akan sedikit mengorbankan sisi kenyamanannya. Ternyata ENGGAK LHO! Teksturnya supeeerrr nyaman di kulit. Cream-nya ringan dan nggak lengket sama sekali, tapi juga sekaligus ngasih sedikit efek lembap. Produk ini juga ngasih efek kulit yang smooth seperti face primer, namun nggak ada white cast. Secara formula ini bener-bener kerasa senyaman produk highend

ingredients di packaging lacoco daily uv counter spf 50 PA++
Ingredient Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++

UV Protection dalam sunscreen ini ada 4, yaitu:
  • Ethylhexyl Methoxycinnamate (Octinoxate) : Chemical Sunscreen, UVB protection
  • Butyl Methoxydibenzoylmethane (Avobenzone) : Chemical sunscreen, UVA protection
  • Octocrylene Chemical sunscreen, UVA & UVB protection
  • Titanium Dioxide : Mineral/ physical sunscreen
Fitur perlindungannya cukup lengkap, terdiri gabungan dari chemical sunscreen dan mineral sunscreen, yang tentunya sangat efektif melindungi kulit dari sinar matahari. Selain itu produk ini juga dilengkapi dengan Niacinamide dan Licorice Extract yang membantu mencerahkan kulit. Sama seperti Lacoco Dark Spot Essence, sunscreen ini dibuat bebas dari paraben, sulfate, silicone, dan alcohol. Keseluruhan formulanya terasa sangat luxurious, super nyaman di kulit, dan nggak meninggalkan white cast. Luv!


Cara Pakai dan Layering Lacoco Dark Spot Essence


Review Cara Penggunaan Lacoco Dark Spot Essence dan Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++
cara layering Lacoco Dark Spot Essence dan Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++

Untuk Lacoco Daily UV Counter, nggak perlu saya jelaskan cara pakai dan layering-nya ya. Pasti semua sudah tahu bahwa sunscreen wajib dipakai di step terakhir pemakaian skincare setiap pagi (Untuk memahami ini, terlebih dahulu silahkan membaca artikel saya yang berjudul "Basic Skincare CTMP" dan "Paduan 10 Step Skincare")

Saya pakai Lacoco Dark Spot Essence ini di night skincare routine setiap hari, di slot serum bagian pertama di malam hari, sekitar 2-3 drops sekali pemakaian. Jadi kira-kira seperti ini urutan night skincare saya:
Hydrating Toner - Lacoco Dark Spot Essence - Another Actives Essence/ Serum - Hydrating Serum - Moisturiser

Karena Lacoco Dark Spot Essence ini adalah exfoliator, saya nggak pakai acid toner lagi. Untuk kalian yang merasa perlu eksfoliasi lebih, boleh saja sih pakai acid toner/ face scrub juga. Tapi kalau di kulit saya sendiri, Lacoco Dark Spot Essence ini sudah cukup banget memenuhi dosis eksfoliasi harian di skincare routine saya.

Nggak seperti Retinol dan Arbutin yang cuma boleh dipakai di malam hari, AHA/ BHA boleh kok dipakai di pagi hari juga. Jadi, nggak masalah kalau mau memasukkan Lacoco Dark Spot Serum di skincare routine pagimu. Tapi saya sendiri cuma pakai malam. Saya kalau pagi nggak terbiasa pakai exfoliant, jadi sering kelewatan mau pakai essence ini. Tapi isoke kok. Dari dulu saya terbiasa pakai exfoliator di malam hari saja, nggak pernah pakai di pagi/ siang hari, dan kerjanya juga sudah efektif.

Perlu diingat bahwa AHA/ BHA sifatnya photosensitif. Jadi kalau sudah bertekad menambahkan ingredient ini dalam skincare rutin, kita wajib berkomitmen untuk pakai sunscreen dengan cara dan jumlah yang benar, dan juga wajib reaply sunscreen. Jadi memang cerdas banget sih Lacoco, ngeluarin exfoliating essence barengan sama sunscreen-nya. Karena memang ini combo yang penting banget.


Hasil Setelah Satu Bulan Pemakaian Lacoco Dark Spot Essence dan Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++

Ini dia before-after wajah saya setelah satu bulan pemakaian kedua produk ini.

Before dan After Lacoco Dark Spot Essence dan lacoco daily uv counter spf 50 PA++
Sebelum - Sesudah 1 bulan pemakaian Lacoco Dark Spot Essence

(Tolong abaikan perbedaan skintone di foto tersebut ya) Di saya, efek pemakaian produk ini bukan ke skintone. Skintone saya kayaknya udah mentok sih tingkat cerahnya. Tapi fokuslah kepada area noda gelap yang saya beri lingkaran putih. Setelah pemakaian kedua produk ini, noda tersebut jadi mengecil dan sedikit menipis. Noda yang saya punya itu bukanlah noda dosa ya, tapi noda bekas jerawat dengan jenis PIE (Post Inflammatory Erythema). Noda jenis ini konon hanya bisa dihilangkan dengan tindakan laser. Jadi ketika noda ini sedikit memudar dengan pemakaian produk OTC begini, yhua berarti produknya bagus banget!

Baca juga: Review Lacoco Watermelon Glow Mask & Eye Serum

Efek lainnya, pori-pori terasa lebih bersih, karena memang exfoliator berfungsi untuk deep cleansing. Namun di saya pribadi, efek AHA-nya yang ngasih kesan bright dan menghilangkan noda, lebih terasa dominan dibandingkan efek pore cleansing-nya sih. Reaksi ini mungkin bisa berbeda di kamu ya. Kalau kulit saya sih dari dulu memang cenderung lebih cocok dan bereaksi dengan AHA dibandingkan BHA.

Pemakaian sunscreen-nya juga nggak menyebapkan komedo dan jerawat. Sunscreen-nya benar-benar mampu melindungi kulit saya dari matahari. Rumah saya banyak jendela kaca dari segala sisi, dan juga saya rutin berjemur setiap hari, serta saya sedang pakai beberapa skincare dengan kandungan active yang cukup photosensitif (termasuk Lacoco Dark Spot Essence), tapi kulit saya tetap pada tingkat kecerahan ini dan nggak menggelap sama sekali.


Recomended?

Review Lacoco Dark Spot Essence dan Review lacoco daily uv spf 50 PA++
1 bulan pemakaian Lacoco Dark Spot Essence dan Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++

Untuk sunscreen, saya merekomendasikannya ke SEMUA ORANG, kecuali ibu hamil karena chemical sunscreen memang tidak boleh dipakai oleh ibu hamil. Sunscreen dengan tekstur super nyaman itu selalu jadi investasi yang bagus, dan nggak bakalan salah deh dipakai oleh siapa saja, di segala usia. Sunscreen termasuk dalam basic skincare CTMP yang kita harus selalu punya.

Dan ini adalah sunscreen dengan formula dan fitur perlindungan yang bagus banget. Kekurangan sunscreen ini menurut saya adalah kemasannya yang terlalu kecil untuk ukuran sunscreen. Tapi ini bisa jadi kelebihan juga. Karena ini sunscreen yang beneran sangat bagus secara tekstur, formula, dan ingredient, dengan dikemas kecil-kecil, harganya jadi lebih bisa dijangkau. Jadi istilahnya, buat yang mau nyobain sunscreen kualitas highend dengan harga yang relatif terjangkau, Lacoco Daily UV Counter bisa banget dicoba. Dan ukuran ini juga bikin sunscreen ini mudah dibawa-bawa untuk reaply. Meskipun saya berharap Lacoco next akan memroduksi sunscreen dengan ukuran yang lebih besar.

Kalau Lacoco Dark Spot Essence, saya merekomendasikanya untuk:
  • Yang sudah khatam basic skincare CTMP dan disiplin dalam pemakaian sunscreen.
  • Pemula yang mulai ingin mencicipi chemical exfoliant yang lumayan terasa.
  • Kamu yang kulitnya terlalu sensitif dan nggak kuat pakai acid toner yang banyak beredar di pasaran.
  • Yang butuh mild exfoliator untuk dipakai harian, atau untuk dipakai barengan dengan skincare yang punya actives ingredient lain.
  • Yang butuh tambahan mild exfoliant lain untuk membantu kerja acid toner yang sudah dipakai.
Namun lagi-lagi Lacoco Dark Spot Essence juga sebaiknya dihindari dulu oleh ibu hamil, karena kandungan Salysilic Acid/ BHA-nya.


Harga Lacoco Dark Spot Essence dan Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++

Lacoco Dark Spot Essence dibandrol dengan harga Rp 190 000/ 10 ml, sedangkan Lacoco Daily UV Counter bisa kamu dapatkan dengan harga Rp 150 000/ 20 ml. Untuk informasi lebih lengkap, kamu bisa kunjungi website Lacoco atau instagram @lacoco.id.