Tuesday, April 29, 2014

Review: Roro Mendut Royal Black Spice Series


Saya selalu tertarik sama traditional skincare. Apalagi yang bahan dan aromanya kayak rempah-rempah. Duh, menggoda banget. Kalau spa di salon, saya juga selalu milih varian rerempahan. Soalnya sebagai orang Jawa tulen, saya percaya banget sama khasiat akar-akaran dan dedaunan yang sudah sejak jaman nenek moyang diramu untuk keperluan perawatan kecantikan dan kesehatan. Ketambahan lagi saya demen banget sama bau jamu. Selain bikin kulit indah dan sehat, aromanya juga menenangkan pikiran.

Calon pengantin Jawa biasanya juga akan diberi berbagai macam ramuan tradisional untuk perawatan kulit oleh dukun mantennya. Dukun manten ini bukan dukun-dukun goib gitu loh ya, tapi sebutan untuk MUA pengantin tradisional Jawa. Mereka percaya kalau agar tampil cantik dan sensual pada hari pernikahan dan pada malam pertama, nggak bisa kalau hanya mengandalkan make up. Tapi juga harus dibarengi dengan perawatan menyeluruh dan telaten dengan produk-produk tradisional ala putri keraton.

Sekitaran bulan lalu, saya dapet kiriman segepok skincare tradisional dari Roro Mendut Traditional Skincare. Mungkin rangkaian ini masih asing ya nama brand-nya. Rangkaian perawatan ini adalah produk tradisional yang di produksi di Jogja, dan biasa dijual di Mirota Batik. Selain di Mirota Batik, juga udah dijual di toko-toko lain di seluruh kota di Indonesia. Lokasi store-nya bisa dilihat di sini. Tapi sekarang sih temen-temen beli secara online di web-nya.

Kok namanya Roro Mendut sih? Bagi yang orang Jawa, pasti tahu banget siapa Roro Mendut ini. Roro Mendut adalah tokoh pada masa Kasultanan Mataram. Dikisahkan, Roro Mendut ini adalah perempuan yang sangat cantik dan punya daya tarik sensualitas yang sangat tinggi. Banyak banget yang terpikat sama dia. Bahkan, dari novel sejarah Trilogi Roro Mendut-nya Y.B. Mangunwijaya yang saya baca, ada satu scene yang mengisahkan Roro Mendut ini jualan rokok istimewa. Istimewanya adalah rokok ini dihisap dulu oleh Roro Mendut, baru kemudian dijual. Rokok bekas hisapan perempuan paling cantik dan seksi tersebut kemudian menjadi sangat mahal, melegenda, dan dicari oleh laki-laki dari seluruh penjuru negri. Hmm...kalau saya yang jualan begituan laku berapa ya? #kulakanrokok

Nah, makanya nggak heran kalau sosok Roro Mendut ini kemudian dijadikan brand image suatu merk perawatan kulit tradisional. 


Saturday, April 26, 2014

Resep Mudah: Cap Jae Ndeso



Kalau saya ngomong "Cap Jae", pasti bayangan orang-orang tug langsung ke capcay ala chinnesse food yang isinya sebagian besar terdiri dari sayur mayur, dikasih ayam dikit, udang dikit, telur dikit dan berkuah. Kalau googling resep cap jae juga yang muncul selalu resep capcay ala chinnesse food. Padahal cap jae itu beda sama capcay. Makanya saya kasih label "ndeso" di belakangnya.

Cap jae ini memang makanan ndeso. Tapi jangan salah, walau ndeso nikmatnya tiada dua. Makanan ini nggak mahal dan nggak mengandung daging-dagingan, kecuali ditambahin sendiri ya. Tapi udah endeus banget lah.

Kalau di kampung saya di pinggiran Solo sono, dulu kalau sore ada embah-embah yang jualan makanan-makanan ndeso dalam bakul yang digendong. Sekarang sih bahkan di kampung saya udah nggak ada, apalagi di Jakarta. Sekarang kalau cari cap jae di Solo, bisa langsung ke pasar tradisional, atau kadang ada beberapa hik yang masih jualan cap jae ini, porsi mini dan dibungkus daun pisang.

Tapi nggak semua cap jae enak dan sesuai sama selera saya. Kebanyakan cap jae yang beredar saat ini udah nggak seenak dulu. Cap jae yang enak menurut saya tuh yang empuknya pas, gurih, sedikit manis, dan sedikit "basah" tapi bukan berkuah lho ya. Sedangkan cap jae yang banyak beredar sekarang itu keras, sama sekali nggak manis, cuma gurih asin aja bahkan terkadang hambar, dan kering.

Makanya saya cobak bikin sendiri. Tapi kemarin-kemarin ini saya coba-coba bikin belum pernah berhasil. Maksudnya berhasil adalah enak menurut standar saya. Cap jae bikinan saya sebelum ini sih kata orang lain yang makan enak, tapi kalau kata saya masih belum seperti cap jae enak yang saya mau. Udah putus asa aja rasanya bikin cap jae, berasa buang-buang tepung terigu aja. Tapi hari ini saya mentok banget kepengennya. Ditambah lagi dipamerin Tintaz kalau dia setiap pagi dibeliin ginian sama ibuknya T.T.


Wednesday, April 16, 2014

Tutorial Bikin Alis & Review Produk Alis Andalan


Entah sejak kapan yah, dunia peralisan menjadi banyak diminati. Saya ngeh-nya sih karena banyak yang minta tutorial bikin alis ke saya dan banyak beauty blogger yang bikin post tutorial cara bikin alis. Mungkin sejak tante Anastasia BH ngeluarin Dipbrow Pomade ya?

Walau banyak yang minta, tapi selama ini saya cuekin aja. Soalnya menurut saya alis saya ya gitu-gitu doang sih. Udah banyak banget beauty blogger yang bikin tutorial cara bikin alis, yang menurut saya cara dan alat-nya canggih-canggih. Sementara saya alisnya simpel aja, dan caranya ya gitu-gitu doang. Jiper aja mau bikin tutorial. Ntar dikomen: "Ahelah...gitu doang, nenek gue sambil koprol juga bisa, Rum!"

Tapi karena kali ini momennya pas, pas banget saya dapet produk buat ngegambar alis favorit dari Miss Lie Collection, jadi marilah hari ini kita ngomongin alis. Tapi plis ya, sis, nenek-nya jangan disuruh koprol ah, kesian.

Pertama, tentunya kita ngomongin dulu bentuk alis ideal. Berhubung saya bukan MUA yang terbiasa dengan bentuk muka banyak orang, saya kurang paham bentuk-bentuk alis yang bagus buat muka situ-situnya. Yang saya tahu ya bentuk alis yang bagus buat muka saya, yang mana belum pas juga sih sebenernya *bentuk alisnya yang belum pas, bukan mukanya*. Pengen sih sekali-sekali minta dibentukin sama tukang alis gitu, pengen tau aja bentuk paling pas buat muka saya menurut ahlinya gimana.

Cara menggambar alis yang sedang saya suka saat ini adalah:
  • Tidak terlalu lurus ala alis-alis korean, tapi juga tidak terlalu menukik ala alis Krisdayanti
  • Sudut lengkungannya tidak tajam
    Karena bentuk muka saya yang kotak (rahang tegas), bentuk alis yang tidak bersudut akan melembutkan keseluruhan bentuk muka saya yang maskulin
  • Bagian pangkal wajib ditipisin, biar membentuk gradasi
    Saya paling nggak demen alis yang dari ujung ke ujung tebel semua. Se-perfect apapun bentuknya, bakalan kelihatan galak dan kayak alis tempelan. Ini di muka saya lho ya, bukan ngomongin alisnya orang lain. Makanya setelah nggambar alis, saya pasti selalu ngebaur bagian pangkalnya biar tipis dan bergradasi.
  • Rapih, dengan ujung yang runcing
    Kalau alis rapi, muka juga berasa rapi.
  • Berwarna taupe
    Katanya sih warna alis ideal itu ya kayak warna rambut kita. Warna rambut saya item sih, tapi kalau pakai alis item atau abu-abu, entah kenapa muka saya kelihatan kusem. Kalau pakai coklat yang kemerahan juga nggak cocok kayak banci, mungkin karena kontras banget sama rambut saya. Makanya saya pilih warna taupe atau coklat keabu-abuan.

Sunday, April 13, 2014

Resep Mudah: Asem-Asem Daging


Hari minggu dan nggak ada acara penting begini kalau saya sih enaknya di rumah aja, atau keluar sama temen-temen deket. Kalau saya di Jogja sih, melipir ke pantai bisa jadi pilihan. Sayangnya saat ini kan saya ada di kota-serba-nggak-ada a.k.a. Jakarta :D. Pengen sih melipir ke puncak atau ke Bandung gitu, tapi males ajah sama macet-nya. Duh...kangen sama Jogja.

Dan untuk melengkapi acara leyeh-leyeh santai bersama suami, saya masak makanan kedemenan suami saya hari ini, yaitu: Asem-asem Daging.

Sebelumnya saya mau bilang kalau saya nggak jago-jago amat masak. Saya cuma bisa resep-resep rumahan yang gampang-gampang aja. Dan saya juga sukanya yang masaknya cepet, nggak lama, soalnya saya nggak suka berdiri lama-lama di depan kompor, bikin jerawatan. Skill masak saya juga ya gitu-gitu aja nggak ada perkembangan yang signifikan, soalnya saya cuman masak kalau lagi tobat selo aja, nggak tiap hari. Jadi masih kalah jauh deh kalau dibandingin mbak Dini dengan Ceker Dimsum-nya yang yummy abis itu. Lha kok pede bagi-bagi resep sama foto masakan? Ya saya kan memang orangnya kepedean.

Selera orang soal masakan tentunya beda-beda ya. Pengaruh paling besar biasanya dari daerah/lingkungan asal tempat tinggalnya, tempat dia makan sehari-harinya dari kecil. Berhubung saya dan suami orang jawa tengah, kami suka masakan yang khas jawa, yang rasanya manis, gurih, sedikit pedas, dan berempah. Jadi saya memang lebih suka masak pakek bawang merah, cabe keriting, lengkuas, dan terasi. Menurut saya lebih sedep daripada pakek bawang bombay, paprika, saus teriyaki, dan mayones. Tapi sekali lagi, semua hanya masalah selera yah.

Ini resep Asem-asem Daging Sapi ala saya. Resepnya gampang banget, bikinnya cepet, dan bumbu-bumbunya juga gampang didapet. Tinggal grusak-grusak di kantong celana atau di sudut-sudut tas cari duit recehan, lalu melipir ke warung deket rumah atau supermarket terdekat. Paling rada susah tuh cari daging sapi seger kali ya.

Friday, April 11, 2014

Review: Purbasari Lipstick Color Matte


Kalau ngomongin lipstik matte dari merk lokal yang harganya terjangkau, orang-orang pasti kok langsung nyebutnya Wardah Longlasting Lipstick ya? Padahal menurut saya, Wardah Longlasting Lipstick (review all varian Wardah Lipstick di sini) itu teksturnya nggak banget, bikin kering bibir. Lipstik matte dari merk lokal selain Wardah yang pernah saya coba adalah Caring Everlasting Lip Colour (review di sini), Mirabella Colorfix Lipstick (review di sini), dan Purbasari Lipstick Color Matte.

Dari semua yang saya sebut di atas, yang paling bikin bibir gersang adalah Wardah Longlasting Lipstick, sedangkan yang paling enak dipakai adalah Purbasari Lipstick Color Matte. Makanya saya lagi jatuh cinta sama lipstik ini.

Oh iya, mungkin banyak yang belum tahu kalau Purbasari itu ada line make up-nya. Purbasari ini memang yang terkenal adalah body scrub-nya. Saya juga suka body scrub-nya karena teksturnya enak dan harganya murah, walaupun baunya amit-amit. Line make up-nya lumayan lengkap loh! Harganya juga tergolong murah. Saya pernah me-review line make-up Purbasari di sini.

Karena lipstik ini kualitasnya bagus dan harganya murah, saya merekomendasikan banget deh untuk para pecinta matte lipstick yang pengen nambahin koleksi tapi kantongnya lagi cekak.

Thursday, April 10, 2014

Pamer Palet


Ini ceritanya saya kepengen nulis sesuatu di blog ini, tapi lagi malas dandan bikin FOTD atau EOTD, malas bikin artikel serius, malas nge-review produk kosmetik, dan apalagi bikin tutorial. Jadi ceritanya kamera saya baru dan saya belum nemu formula selfie yang tepat. Jadi kamera baru saya memang belum saya pakai-pakai ^^.

Hmm...saya malas menjelaskannya, kayaknya yang mudeng cuma sesama beauty blogger aja. Pokoknya saya menghimbau kalian yang doyan selfie, untuk menjaga kamera kesayangan kalian baik-baik. Perlakukan kamera seperti celana dalam berenda kamu yang paling mahal. Dipakai dengan tepat, dibersihkan dengan cara yang tepat, disimpan di tempat kering dan tertutup, jangan diperlakukan dengan kasar, jangan ditaruh disembarang tempat, jauhkan dari intipan mata-mata nakal, dan tentu saja, jangan dipinjamkan. Serta marahlah kalau ada orang lain yang menyentuhnya tanpa ijin.

Saya mau ngomongin sesuatu diluar make up juga lagi nggak keidean. Jadinya saya pamer-pamer sedikit koleksi saya aja deh. Ini cuman pamer loh ya. Nggak ada review mendetail, swatch, EOTD/FOTD, apalagi tutorial. Palingan cuma quick review dan banding-bandingin ayam doang. Semoga aja bisa jadi gambaran bagi yang kepengen beli-beli palet.

Yang mau saya pamerin ini adalah barang yang selalu berhasil bikin para pecinta make up menggelinjang, yaitu palet. Palet memang selalu dilirik sama para pecinta make up sih. Soalnya ya mana tahaaaannn liat make up berjajar-jajar dalam satu wadah. Apalagi kalau warna-warni. Aduh #gigitdompet.

Jaman awal-awal belajar dandan dulu, saya juga ngidam banget palet. Pokoknya pikir saya waktu itu kalau belum punya palet tuh belum bisa ngaku-ngaku pecinta make up dah. Terus setelah beli, pikir saya juga sekali aja beli palet eyeshadow dengan warna lengkap, habis itu nggak usah beli-beli lagi karena semua warna saya udah punya. Ternyata, nggak bisa sodara-sodara! Karena beli palet itu rasanya kayak makan indomi goreng dikasih cabe rawit, alias nagih!

Padahal kalau dipikir-pikir, palet itu boros juga sebenernya. Karena:
  1. Harga palet memang pasti lebih murah kalau dibandingkan dengan beli satuan. Oleh karena itu, kita jadi mikir beli terus dan terus
  2. Kualitas produk palet, kebanyakan lebih jelek dari produk satuannya. Misalnya aja nih, single eyeshadow Revlon dan NYX itu kualitasnya bagus. Tapi begitu dibikin quad atau palet, biasanya kualitasnya menurun. Mungkin mengikuti harganya yang makin murah juga kali ya?
  3. Kalau kita bukan make up artist atau orang yang bekerja dengan menggunakan alat make up, sebenernya nggak semua warna/jenis make up yang ada dalam palet itu kita gunakan loh! Contohnya palet eyeshadow 88 warna. Paling yang kepake juga warna itu-itu aja kan?

Monday, April 7, 2014

Review: Dr. Chukchuk Body Peeling Care



Saya nggak tau ada produk body peeling non-scrub selain dr Chukchuk ini. Biasanya klinik-klinik kecantikan atau dokter kulit tertentu aja yang menyediakan treatment body peeling. Jadi ini kali pertama saya nyobain body peeling.

Saya ini orangnya malas scrubing. Saya sering banget menyarankan untuk scrubing seminggu sekali atau dua kali. Tapi kenyataannya saya sendiri jarang scrubing. Kalau pas centil sih ya rajin, seminggu sekali paling enggak. Tapi normalnya saya muales. Saya pernah membaca beberapa blogger yang hobinya scrubing. Hobi orang emang beda-beda sih ya. Kalau blogger itu hobi scrubing, blogger anu hobi eksperimen pakek eyeshadow, kalau saya hobinya ngemil.

Sebenernya perasaan setelah scrubing itu enak banget. Kulit berasa bersih banget dan badan rasanya enteng. Mungkin 5 kg bobot tubuh saya itu terdiri dari daki kali ya? Makanya kalau habis scrubing berasa enteng :D. Tapi prosesnya jujur aja bikin males. Nyekrab badan tuh butuh waktu lama di kamar mandi nungguin scrub-nya kering, terus udahnya butuh tenaga buat gosok-gosok. Males bok. Pegel. Scrubing itu memang paling enak di salon sih kalau kata saya.

Belum lagi saya punya permasalahan kulit baru sejak pindah ke Cimanggis. Rumah saya yang di sini nyamuknya buanyak banget. Udah pasang obat nyamuk elektrik, sering-sering semprot obat nyamuk, bersih-bersih rumah, dan pakai lotion anti nyamuk, tetep aja saya jadi korban ganasnya nyamuk ibukota. Apalagi kulit saya ini tipe kulit kentang, digaruk sedikit langsung lecet. Alhasil kulit saya korengan dimana-mana. Kebayang nggak sih koreng begitu digosok pakek butiran scrub? Bisa-bisa kebuka dan luka lagi. Duh...saya mbayanginnya perih.

Tapi sekarang sih saya udah rajin peeling badan. Pakai produk peeling dari Dr Chukchuk yang dikasih sama Miss Lie Collection. Saya pernah review peeling dr Chukchuk yang untuk muka di sini. Awalnya saya ragu-ragu, soalnya bayangan saya bakalan berasa nggak manteb gitu, nggak berasa kalau peeling-an. Soalnya selama ini kan saya taunya body peeling ya pakek scrub yang ada butirannya. Ternyata manteb!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...