Friday, May 30, 2014

Belajar Dandan 2: Kuas Yang Kira-Kira Harus Dibeli Kalau Baru Memulai Pakai Make-Up


Setelah sekitaran beberapa dekade yang lalu saya buat post Belajar Dandan 1: Produk Yang Kira-Kira Harus Dibeli Kalau Baru Memulai Pakai Make-Up, dan kemudian ditagih sesi 2 nya oleh banyak umat, akhirnya saya sempet juga bikin bagian 2, yaitu soal kuas. Thanx buat temen-temen yang udah towel-towel saya untuk ngingetin bikin post ini.

Jujur aja sih, saya agak mikir mau bikin yang post soal rekomendasi kuas ini. Yang pertama saya bingung mau ngasih referensi merk, karena kuas bermerk biasanya mahal dan kurang cocok buat kantung pemula (kecuali pemulanya milyader ye. Tapi saya yakin milyader nggak baca blog ini. Milyader pasti baca blog lain yang referensi merknya lebih keren. Ehm.) Yang kedua, sebenernya penggunaan kuas itu tergantung dari selera dan kebiasaan. Misalnya nih, menurut saya kuas foundation itu penting, tapi beberapa orang bilang nggak penting karena katanya lebih enak ngebaur foundie pakai jari. Jadi pada akhirnya saya pakai selera dan kebiasaan saya aja, soalnya ini blog saya.

Kuas itu memang investasi yang penting buat para pemakai make up. Karena dengan menggunakan kuas yang bagus, akan sangat membantu kita untuk mendapatkan hasil make up yang juga bagus. Kuas yang bagus disini maksud saya bukan mahal. Tapi bagus menurut saya adalah bentuknya tepat dan kelembutan bulunya juga tepat, sehingga bisa membantu mengaplikasikan make up dengan baik.

Mungkin banyak yang akan berpikir, nggak semua orang punya budget untuk beli kuas. Menurut saya, kalau memang mau ber-make-up dengan baik, ya budget-kanlah! Karena memang kuas ini adalah hal yang penting dalam mengaplikasikan make up. Kan bisa bikin budget buat blusher, eyeshadow, dan lain-lainnya? Kenapa buat kuas, yang notabene sama pentingnya, enggak?


Sunday, May 25, 2014

Apa Isi Pouch-mu?


Pouch yang mau saya omongin tentu saja make up pouch ya :D

Kayaknya hampir semua cewek yang make up-an punya make up pouch. Soalnya kalau enggak, make up yang buat touch-up berantakan dong entar, di tas. Mau cari lipstik aja harus ubek-ubek-ubek ke seluruh penjuru tas, eh..ketemunya bungkus permen ^^. Saya pun punya dan suka pakai make up pouch. Make up pouch saya nggak cuma satu, tapi ada beberapa. Saya pakai berdasarkan fungsinya aja sih. Kalau harian pakai make up minimalis, ya bawa pouch kecil aja. Kalau pas make up lumayan menor, pakai pouch ukuran sedang. Kalau pas traveling, pakai pouch gede.

Akhir-akhir ini saya memang udah jarang make up-an komplit. Selain udah mulai males sama make-up (rrr..), juga biar kulitnya sehat aja. Nggak pakai make up itu memang bagian dari rangkaian perawatan kulit saya. Sehari-hari aja paling cuma pakai bedak tabur, pensil alis, dan lipstik. Kalau lagi berkantung mata tebal, ya tambah concealer. Untuk penampilan lebih asik, misal mau ketemuan sama orang penting gituh, saya tambahin lagi pakai BB cream dan mascara. Akhir-akhir ini saya memang jarang banget pakai blusher dan eyeliner. Tentunya pouch saya isinya juga tambah sedikit dong ya :D.


Tuesday, May 20, 2014

Review: Mane 'n Tail Shampoo & Conditioner


Sampo kuda buat manusia?

Kenapa nggak sampo kucing aja ya? Kan saya jadinya bisa ngirit, joinan sampo sama kucing saya gitu ^^. Tapi seaneh apapun trend yang satu ini, memang beneran ada. Para selebriti hollywood kayak Jenifer Anniston dan Sarah Jesica Parker kabarnya juga pake sampo kuda ini. Terus saya pernah baca interview Female Daily sama Andien, mbak Andien juga pakai Mane 'n Tail. Interview-nya di sini nih.

Mungkin karena kuda itu bulunya kuat, jarang rontok dan mengkilap ya? Jadi dengan memakai sampo yang sama kaya kuda, diharapkan rambut juga bakalan kuat dan mengkilap. Pemakaian sebulan larinya tambah cepet. Habis sebotol bisa meringkik.

Saya tau gonjang-ganjing sampo kuda ini malah bukan dari blogger, tapi dari instagram. Banyak banget online shop yang jualan sampo kuda wira-wiri di instagram. Bahkan beberapa temen beneran saya (maksudnya bukan temen duania maya gitu), juga pakai sampo kuda.


Wednesday, May 14, 2014

Coba-coba Pakai Wig



Kalau dua tahun yang lalu saya ngomong: "pengen beli wig!", pasti sekalian umat bakalan berkata: "buat apaan sih? Aneh-aneh aja!". Tapi berhubung saya pengen wig ini di tahun 2014, jadi nggak ada yang nganggep saya aneh-aneh. Memang sih, akhir-akhir ini wig udah jadi semacam gaya hidup yang normal. Kalau jaman dulu memang yang pakai wig itu identik dengan bencong yang suka ngamen di perempatan UKDW, om-om senang yang rambutnya mulai menipis, dan Gayus. Jaman sekarang embak-embak selebgram dan selebblog, serta embak-embak gaul di mall pun udah pakai tanpa malu-malu.

Wig jaman sekarang juga nggak sama kayak jaman dulu yah. Model wig-nya bagus-bagus, kaya model rambut asli. Kualitas rambutnya juga bagus, lembut dan nggak rontok. Terus juga wig-wig ini nyaman dipakai. Yang lagi hips di jagat raya instagram sih wig dari Thailand.

Saya awalnya nggak tertarik sama wig. Saya memang tipe manusia lama, atau dibilang jadul juga boleh lah! Bukannya mau sok-sokan anti-mainstream, tapi memang saya kurang "masuk" dengan beberapa trend kecantikan yang sedang berkembang saat ini. Diantaranya: aegyo sal, blonde hair, ombre lips, dan enlarging circle lenses. Bukan apa-apa sih, tapi memang muka saya nggak cocok buat trend tersebut. Buat lucu-lucuan dandan dan foto-foto oke lah. Tapi big no-no buat saya kalau untuk daily style.

Trend-trend tersebut mungkin bagus di beberapa orang, tapi nggak bagus ketika diaplikasikan di muka awsome saya. Wig juga begitu, saya nggak tertarik karena saya ngerasa saya bukan orang yang telaten ngerawat wig, dan lagi saya ini tipe yang pakai bandana dan topi aja kegerahan, masa mau pakai wig?


Saturday, May 3, 2014

[Skincare Routine] Update Rutinitas Skincare 2014


Saya rasa inilah waktu yang tepat untuk update rutinitas skincare saya. Kapan sih waktu yang tepat untuk update rutinitas perawatan muka? Kalau udah mulai banyak yang tanya: "situ pakek krim apa? Tumben rada bersihan." Nah, berhubung udah mulai banyak yang tanya-tanya ke saya, makanya saya update.

Seperti biasa, sebelum saya nge-post soal skincare atau perawatan kulit, saya harus mengingatkan kalau skincare itu cocok-cocokan. Yang oke di saya mungkin nggak oke di situ. Dan saya juga mau mengingatkan kalau saya akan nyuekin komen atau email yang bau-baunya mau konsultasi soal kulit dan perawatannya. Masalahnya saya bukan dokter kulit dan saya takut menyesatkan. Tapi kalau serius pada banyak yang mau konsultasi, saya akan mempertimbangkan bukak lapak konsultasi onlen. Nggak gratis ya tapi. Sekali konsul go pek ceng.

Tentunya sebelum masuk ke perawatan kulit, saya harus menjelaskan kondisi kulit saya dulu. Biar yang mau nyontek bisa memastikan kalau yang dicontek kulitnya sealiran. Kulit saya sebenernya normal cenderung kering. Tapi sejak pindah ke Jakarta, bagian hidung dan dagu jadi agak berminyak. Jadi mungkin sekarang kulit saya judulnya kombinasi. Kombinasi tapi awsome.

Terus kalau saya baca-baca mbak-mbak beauty blogger yang lain gitu, perawatan kulit mereka nggak asal, tapi mengambil "ide" dari manaa gitu. Misalnya ada mbak anu yang idenya adalah perawatan kulit wanita Korea yang krimnya berlapis-lapis karena masing-masing tahapan dipercaya mempunyai fungsinya sendiri-sendiri. Atau si mbak itu yang ide perawatannya dari Jepang, yang kalau pakai toner bagusnya dikompresin agak lama dan kalau pakai krim ditampar-tamparin ke muka biar lebih meresap. Dan semuanya bagus-bagus aja sih menurut saya selama cocok dengan kulit dan dompet.

Nah, kalau ide perawatan yang saya ambil asalnya dari jaman jadul, ketika produk skincare botolan belum banyak. Jadi ide perawatan saya adalah dengan cara meminimalisir jumlah produk yang ditemplokin di muka. Termasuk membiasakan diri nggak pakai make up setiap hari, juga merupakan bagian dari perawatan kulit saya. Itu karena menurut saya:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...