Thursday, August 16, 2012

Petualangan Jogja Utara (2): Ullen Sentalu, Museum Seni dan Budaya Jawa


Seperti yang saya katakan di posting sebelumnya, dalam satu hari itu, saya nggak cuma ke Museum Merapi. Tanggung dong, udah nyampe Kaliurang, sekalian aja datengin objek-objek wisata yang lain. Dan karena saya sudah lamaaaaa banget penasaran sama Museum Seni dan Budaya: Ulen Sentalu, maka kesanalah saya. Sebenernya malah inilah tujuan utama saya datang ke Kaliurang. Tempat-tempat lain bonus saja.

Untuk masuk ke sana, kita harus mengeluarkan uang Rp 25 000 untuk usia dewasa, dan Rp 15 000 untuk usia dibawah 17 tahun. Dan untuk turis internasional, Rp 50 000 untuk dewasa dan Rp 25 000 untuk anak-anak. Tapi uang yang saya bayarkan nggak terbuang percuma. Dengan uang segitu saja, kita akan diajak berjalan-jalan menyusuri sejarah kerajaan-kerajaan jawa kuno warisan dinasti Mataram, yang sampai sekarang masih ada. Kita juga mendapatkan pemandu selama 55 menit. Benar-benar pengalaman yang unik dan asik :').



~ saya sudah berusaha mengatakan sejujurnya ke mbak-mbak penjaga loket, kalau sebenarnya saya adalah anak berusia 15 tahun yang terperangkap dalam tubuh ceweq cantik-kece-sexy-dewasa. Tapi mbak-mbaknya nggak percaya dan saya tetap harus membayar full :( ~

Kok dalam satu hari, dua kali ke Museum? Nggak bosen?

Oh...jelas nggak donk :). Soalnya dua museum ini bedaaa banget. Kalau di Museum Merapi kita dibawa untuk melihat keindahan sekaligus kedasyatan alam, kalau di Ullen Sentalu kita dibawa kembali ke masa silam, dan berjalan-jalan di empat kerajaan yang ada di Jogja dan Solo.

Nama Ullen Sentalu sendiri adalah akronim dari “Ulating Blencong Sejatining Tataraning Lumaku”. Yang artinya: Pelita bagi Perjalanan hidup Manusia. Memang sih, di dalam sini kita akan banyak menemui kebijakan-kebijakan Jawa kuno yang mengispirasi.
 
Dan yang bikin Ullen Sentanu ini menjadi tempat yang sangat saya rekomendasikan adalah: konsep dari museum ini bukan "dead museum" seperti museum kebanyakan. Disini kita nggak yang diumbar aja disuruh melihat-lihat benda, mencari cerita sendiri melalui tulisan keterangan pada benda. Tapi kita dipandu, diajak berjalan-jalan oleh pemandu yang asik, informatif, dan mau ditanya-tanya. Sayangnya waktunya terbatas, cuma 55 menit. Jadinya ketika saya sangat tertarik dan penasaran terhadap spot tertentu, saya nggak bisa berlama-lama. Takutnya waktu saya habis, padahal masih banyak tempat yang harus saya dengarkan disana.



Bentuk bangunan Ullen Sentalu cukup indah, memadukan nuansa natural dengan modern. Dan selama berjalan-jalan di dalam sana, kita akan di bawa berkelok-kelok dan naik turun. Mengapa begitu? Karena bangunan museumnya menyesuaikan kontur alam. Mereka nggak mau menebang pohon ataupun meratakan tanah, jadi mereka yang mengalah sehingga bentuk bangunannya menjadi rumit dan berkelok begitu. Tapi maafkan saya karena nggak bisa mengambil foto. Memang di Ullen Sentalu, ada larangan untuk mengambil foto. Hanya di spot-spot tertentu saja yang diperbolehkan.


Saat pertama masuk, kita akan dibawa melalui lorong berdinding batu yang sempit dan berkelok-kelok menuju ruang demi ruang bawah tanah. Dan tentunya sebelum memasuki ruangan, kita akan diperkenalkan dulu dengan silsilah keraton Jogja dan Solo, secara garis besar. Keraton Jogja dan Keraton Solo merupakan sebuah keluarga, pecahan dari kerajaan Mataram Kuno. Dan kemudian, keraton Jogja juga pecah menjadi dua: Kasultanan dan Paku Alaman, dan keraton Surakarta juga pecah menjadi dua: Kasunanan dan Mangkunegaran. Semuanya bila ditelusur merupakan satu keluarga, keturunan dari raja kuno dinasti Mataram.

Ditengah-tengah tur, kita juga akan dijamu dengan minuman tradisional yang rasanya enak, manis, dan berempah. Minuman awet muda, katanya :')

 


Saya tidak akan menceritakan secara detail apa-apa saja yang terdapat disana, karena semua itu bisa dilihat di website Ullen Sentalu: www.ulensentalu.com. Sungguh saya sangat ingin bercerita tentang apa yang saya dapat di dalam sana. Tetapi sepertinya kalau saya yang bercerita, tanpa gambar dan foto, akan menjadi suatu post yang membosankan :'). Yang jelas, masing-masing benda di Ulen Sentanu membawa kita untuk berjalan-jalan ke kemegahan keraton jawa masa silam. Dan membuat kita bertanya-tanya, seperti apa kehidupan keraton dimasa kini. Museum ini memelihara budaya agung yang mungkin sudah mulai dilupakan oleh kita-kita, karena terlalu sibuk dengan rutinitas dunia modern.

 

 


Cerita Menarik Lain di Balik Ullen Sentalu

gambar diambil dari: www.kaskus.us
Yang orang jogja, pernah lewat Jembatan Sayidan? Kalau dari Jembatan Sayidan, coba lihat ke arah jogjatronik. Di sana ada kastil yang kelihatan besar dan kuno. Serius, coba lihat deh!

Karena bagus dan bikin penasaran *penasaran juga kan ada kastil di tengah perkampungan*, pasti mengundang orang mendekat. Jadi kalau dari arah jembatan sayidan ke barat, ketemu perempatan, belok ke kiri (ke selatan). Tapi sampai bodongpun kalau dari jalan raya, nggak bakalan ketemu kastil itu. Karena lokasinya tersembunyi dibelakang polres, dan dikelilingi rumah penduduk. Seolah-olah memang sengaja disembunyikan.

gambar diambil dari: www.kaskus.us

Coba masuk ke perkampungan disitu, cari pintu gerbangnya. Kalau beruntung dan ketemu, kita akan bertemu dengan gerbang. Dan nama kastil itu adalah: "Ullon Sentalu". Apa kaitannya dengan Museum seni budaya Ulen Sentalu? Kaitannya, yang punya adalah keluarga yang sama.

Apa isinya? 
Nggak tau, karena memang penduduk sekitar sangat protektif berlebihan terhadap tempat itu. Mereka menjaga agar kastil yang (sepertinya) kosong itu nggak dimasukin orang. 

Memangnya kenapa? 
Nggak tau juga. Penduduk situ bila ditanyai, pasti mengelak, dan malah mengusir kita, menyuruh pulang dan jangan lagi penasaran terhadap tempat itu.

Tapi sungguh, bangunan itu bagus banget. Saya malah penasaran pengen liat >'<. Sayang kalau tempat seindah itu disembunyikan dan nggak dibagi dengan orang lain. Mungkin suatu saat saya bisa ketemu "celah" untuk masuk kedalam. 

Atau mungkin ada yang pernah masuk kesana?

Beberapa orang yang saya tanya menyarankan saya untuk googling. Tapi cerita-cerita yang saya dapat menurut saya sih, aneh dan terlalu dibuat-buat. Saya masih bisa maklum kalau cerita yang saya temui itu cerita mistis yang berhubungan dengan Jogja. Ya maklum kan secara budaya di sini masih kentel banget. Tapi yang saya temui malah cerita mistis yang nggak ada hubungannya dengan Jogja. 

Dan saya pikir cerita-cerita semacam itu dikarang-karang entah oleh siapa kemudian dibumbui dari mulut kemulut, karena keberadaan bangunan yang menutup diri, dan perilaku penduduk sekitar yang terlalu mengundang penasaran dan pemikiran liar.

Mungkin ada yang tau cerita mengenai tempat itu?


Tempat Lain: Gardu Pandang

Sekalian lah saya mampir ke Gardu Pandang, sepulang saya dari Ullen Sentalu. Yang ini nggak berat. Cuma taman dan tempat yang enak melihat view Merapi. Bayarnya? Cukup bayar parkir aja dua ribu rupiah.


Sebenarnya ada gunung lain yang lebih besar dibelakang gunung yang menjadi background saya tersebut. Sayang cuaca nggak mendukung, sehingga tertutup kabut.



Taman di Gardu Pandang sih lumayan asik buat rileks sejenak, setelah disuguhi bermacam cerita sejarah yang terus terang walau menyenangkan bikin kepala sedikit berat.


Ini bungker darurat, ruang lindung kalau Merapi meletus lagi. Kadang ada saja orang yang nggak sempet menyelamatkan diri dengan turun ke kota.


Tempat Lain Lagi: Poci Kaliurang


Kalau ini tempat nongkrong saya sejak jaman kuliah dulu. Asik lho menghabiskan malam disini. Viewnya bagus, udaranya dingin, dan suasananya asik. Menunya ada makanan berat, makanan ringan, dan minuman-minuman hangat. Tapi kalau siang sepi banget. Dulu kalau liburan, saya sering banget kesini, nongkrong sampai pagi sama temen. Sekedar ngobrol ditemani beer atau kopi. Kangen juga masa-masa dulu. :')

Ihhh....capa tuh yang ngintiiippp. lucu cekali tamuuhhh >'<


Museum seni dan budaya Jawa: Ullen Sentalu

Address:
Jl Boyong Kaliurang,
Sleman Yogyakarta

Secretariat:
Jl. Plemburan 10
Yogyakarta,
55581, Indonesia

Opening Hours :
8.30 am – 04.00 pm.
Open Daily on Tuesday
trough Sunday,
Closed on Monday

6 comments:

  1. poci kaliurang = pocong kaliurang?
    aaaaaaaaakkk....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dear. Kamu takut, tho? Jadi jangan ke kaliurang ya. Ada poci --"

      Delete
    2. tapi ada gukguk lucu tuhhh.... igghhh...namanya capa cii gukguknya?

      Delete
    3. Nggak tau, nggak kenalan. Yang punya galak :'(

      Delete
  2. hi mbak arum. btw awalnya aku kira kastil yang mbak maksud itu gereja, soale kalo aku dari rumah mau ke kampus naek jalur 2, bis berhenti di lampu merah dkt situ mbak, aku cukup penasaran. ternyata seperti kosong gitu ya mbak? haha makin penasaran jadinya. abisnya diantara bangunan sekitarnya, bangunan tersebut mencolok sendiri. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, yeni. Aku pikir juga gereja, soale ada menara, lonceng, dan patung Jesus guede banget. Tapi kalau gereja kan nggak mungkin dibiarin terbengkalai begitu. Pasti lah di pelihara sama umat disitu. Iya penasaran abis. Apalagi penduduk sekitar protektif banget sama bangunan itu :')

      Delete

Hai, terima kasih sudah mampir di sini dan berkomentar dengan sopan ;).
Komentar yang menyertakan link hidup dan kometar yang sifatnya mempromosikan website komersil/ barang jualan akan dihapus.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...